Juni 2, 2026

Ustad Fadlan: Cinta Umar Key Pada Orangtua Lahirkan Sikap Peduli Orang Lain

Spread the love

Loading

Bekasi – MCN.com – Di tengah tantangan kemajuan teknologi yang berdampak pada hidup manusia, baik dampak positif maupun negatif, serta perkembangan masyarakat yang kian maju, kehidupan beragama masyarakat Indonesia tak pernah padam. Hal itu bisa terlihat dari aktifnya umat beragama melakukan kewajiban dalam beribadah di masjid, gereja, maupun vihara.

Siang itu, Jumat (29/8/2025), seperti biasa, umat muslim melakukan shalat Jumat di Masjid Ar-Romlah, Binalindung, Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi. Masjid itu terbilang penuh.

Khotibnya adalah seorang putra Fakfak, Papua Barat. Dialah Ustad H. Muhammad Fadlan Rabhana Ramatan, asal Desa Patipi, Distrik Teluk Patipi, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Ustad Fadlan sudah lama menjadi pendakwah di Fakfak, usai menamatkan studi ekonomi di Makassar. Dalam kegiatan dakwah itu, Fadlan menaruh kepedulian bukan saja pada pertumbuhan iman jamaah, tetapi dia juga melakukan transformasi pola pikir masyarakat, yang menurutnya menjadi hal yang sangat penting pada masyarakat Papua.

Fadlan kini membangun sekolah Nurwar di Bekasi. Nama Nurwar berasal dari kata “nur” (cahaya) dan “war” (menyimpan rahasia). Salah satu rahasia besar, kata Fadlan, adalah walau dia hitam, keriting, agamanya apa saja, tapi dia mengawal bangsa ini dengan nama Tuhan, Allah SWT. Itulah kenapa Ustad Fadlan selalu diterima oleh siapa saja dan di mana saja.

Sudah lima tahun, Fadlan kenal Haji Umar Key Ohoitenan. Fadlan mengatakan, perjalanan anak rantau dari kampung halaman seharusnya bisa sukses membangun kampung sendiri.

Fadlan melihat sosok Umar Key sebagai anak rantau yang sukses di Jakarta dan kembali membangun kampung halamannya. “Dengan apa yang dia miliki, lahirlah kepedulian pada masyarakat sekitar. Dia itu sosok yang peduli kepada siapa saja. Semua keluarga besarnya, yang berbeda agama, dia rangkul dan dia bantu,” ujar Ustad Fadlan yang kagum pada perjuangan Umar Key.

Ustad Fadlan melihat, Umar Key dengan tenang merangkul dan mengumpulkan saudara-saudaranya dari Maluku, lalu dia membantu mereka, terutama untuk menyelesaikan kuliah serta mencari kerja bagi mereka.

“Pak Umar sadar betul bahwa yang diperlukan anak Maluku adalah kemampuan dan kualitas sumber daya manusia. Ini hal utama, karena untuk membangun peradaban masa depan maka manusianya harus berkualitas,” ungkap Ustad Fadlan dengan kata-kata yang teratur.

Ibarat perahu Nabi Nuh yang menampung banyak orang, menurut Fadlan, saat ini, yang menjadi perahu Umar Key adalah Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM) dan Yayasan Husein, yang selalu memberi bantuan sosial kepada berbagai pihak, termasuk anak yatim dan pesantren.

Di FPMM, anggotanya tak sebatas mereka yang muslim, tetapi ada juga penganut agama Kristen, Katolik, dan Buddha. “Itu memperlihat berapa seorang Umar Key adalah seorang yang merangkul semua orang. Dia menghargai semua orang dan dia selalu ajak orang untuk melakukan kebaikan terhadap sesama secara konkrit,” tambah Fadlan, yang semasa SD pernah merantau ke Ohoi Yamtel, Kei Besar.

Hal lain yang dilihat Fadlan pada diri Ketua Umum DPP FPMM itu adalah tidak meninggalkan adat istiadat Kei, Maluku Tenggara. Adat orang Maluku Tenggara adalah saling menghormati hubungan-hubungan kekeluargaan, sehingga walau berada di tanah rantau, mereka selalu merasa satu dan peduli satu sama lain.

“Umar Key itu salah satu tokoh muda Maluku di Jakarta yang sangat peduli pada anak-anak Maluku. Tidak semua tokoh asal Maluku bisa seperti dia. Dia hidup dengan nilai-nilai budaya dan selalu ingat pada nasihat kedua orangtuanya. Cita-cita dari ibunya, Hajah Romlah adalah ingin melihat anaknya berhasil di rantau, lalu membantu orang lain. Nasihat itu Pak Umar bahwa sampai hari ini. Dia tunjukkan sikap belas kasih itu kepada istri dan anak-anak, kepada keluarga besar kampung halaman, kepada masyarakat Maluku Tenggara dan Maluku pada umumnya. Hatinya selalu tergerak untuk mereka,” papar Ustad Fadlan yang beristri asal Bugis, Sulawesi Selatan.

Menurut Fadlan, orang Maluku bisa belajar dari Haji Umar Key Ohoitenan. Umar tak hanya membangun basis persahabatannya sebatas komunitas Maluku, tapi dia intens membangun relasi baik dengan suku-suku lain di Jabodetabek, dan hubungan harmonis dengan pemerintah pusat dan Pemda, baik di Maluku maupun di Jabodetabek.

Relasi harmonis itu membuat Umar dikenal pelbagai kalangan. Pada dirinya tertanam jiwa nasionalisme wujud cinta negara. Karena itu, menurut Fadlan, Umar memperlihatkan ciri-cirinya pemimpin yang harmonis, humanis, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Karakter Umar dibutuhkan dan dirindukan masyarakat Indonesia, saat banyak pemimpin kita ditangkap KPK karena perilaku korupsi.

Fadlan melihat kekuatan kepribadian Umar ada pada nilai-nilai Islam yang berakar dalam hatinya. Dia seorang muslim yang taat beribadah. Dia juga menekankan hal itu kepada anak-anaknya. Itulah kenapa dia tak terlalu memikirkan harta yang banyak, melainkan bagaimana harta itu bisa dibagikan kepada orang lain agar mereka bisa membantu kehidupan mereka.

Selain nilai Islam yang telah berakar dalam dirinya, Fadlan juga melihat kekuatan pribadi Umar terletak pada cintanya kepada orangtua. Lewat kehadiran Masjid Ar-Romlah yang didirikan untuk mengabdikan nama ibunya, juga nama Yayasan Husein untuk mengabadikan ayahnya, menurut Fadlan, di situlah Umar menyatukan kedua orangtuanya.

“Seandainya ibunya masih hidup hari ini, mungkin setiap tahun Umar akan membawa ibunya umrah ke Tanah Suci dan menggendong ibunya sebagai tanda bakti seorang anak kepada ibunya. Begitu juga terhadap ayahnya. Jadi, kita tahu betapa kuatnya cinta Umar pada orangtuanya. Dalam Islam, perbuatan seperti itu diimani mendapat berkah dari Allah SWT,” pungkas Ustad Fadlan di kompleks Masjid Ar-Romlah, Bina lindung, Bekasi. **(Rika)