![]()
Kei, Maluku – MCN.com – Kisah hidup seseorang memang penuh misteri, namun kerja keras selalu menjadi kunci kesuksesan. Inilah yang tergambar dari perjalanan Haji Umar Kei Ohoitenan, yang merintis karier dari bawah dengan ketekunan luar biasa.
Umar Kei, Ketua DPP Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM), baru-baru ini berbagi penggalan kisah hidupnya kepada istri dan anak-anaknya di Pulau Ohoiwa, Kei. Momen ini dipilihnya saat kembali ke tempat ia pernah bekerja dulu.
Pada 10 November 2025, Umar membawa keluarga besarnya dari Bekasi ke Kei untuk merayakan pernikahan putrinya, Ajeng Dinda Savira Ohoitenan, dengan Fadel Ngabalin. Pernikahan ini menjadi perhatian karena dihadiri sejumlah pejabat penting daerah dan nasional asal Kei.
Sehari setelah pesta, Umar mengajak keluarganya menikmati keindahan Pantai Ngur Bloat (Pantai Pasir Panjang), destinasi wisata terkenal dengan pasir putihnya yang halus seperti tepung. Lokasi ini menjadi favorit wisatawan mancanegara yang ingin menikmati keindahan alam yang masih alami.
Setelah menikmati Ngur Bloat, Umar mengajak keluarganya menyeberang ke Pulau Ohoiwa. Di sana, ia menunjukkan tempatnya bekerja puluhan tahun lalu saat masih remaja. Dengan tujuan membantu orang tua, Umar bekerja di sebuah perusahaan penangkaran bibit mutiara yang dikelola tenaga kerja Jepang. Ia menjadi orang pribumi pertama yang bekerja di sana dengan gaji Rp 70 ribu per bulan.
“Ayah bekerja sebagai antar jemput karyawan, orang Jepang. Gajinya sebulan Rp 70 ribu. Tapi, ayah tetap bekerja dengan semangat,” ujar Raisya Angreini Ohoitenan, mengenang cerita ayahnya.
Dea Belqis Ohoitenan menambahkan sambil tersenyum, “Gaji sebesar itu sebanding dengan satu gelas kopi di Jakarta saat ini.” Mereka semua kagum dengan perjuangan dan semangat hidup ayah mereka.
Umar tetap bersyukur dan bekerja dengan tekun meski dengan gaji yang minim. Malam hari, ia tidur di wisma perusahaan hanya beralaskan papan. Sambil bercerita, Umar juga menunjukkan tempat-tempat di mana ia biasa duduk, merenung, dan bercanda dengan teman-temannya.
Mendengar kisah ini, air mata menetes di pipi putra-putri Umar. Mereka terharu dan bangga dengan ketabahan serta kejujuran sang ayah.
“Ternyata ayah sangat kuat, tabah, tekun, dan jujur. Ayah sungguh berjuang dan hasilnya kami semua ada di tempat ini,” tutur Dzahro Dzakia Ohoitenan.
Raudha Azzahra Ohoitenan menambahkan bahwa perjalanan ayahnya mendapat ridho Allah dan merupakan doa dari kakek-nenek mereka. Quino Anindya Ohoitenan juga mengungkapkan kekagumannya, menyadari bahwa kesuksesan ayahnya saat ini adalah hasil dari perjuangan panjang, keringat, air mata, serta doa yang tak henti-hentinya.
“Sebagai anak, kisah ayah ini adalah pelajaran berharga. Saya makin paham apa yang ayah selalu ajarkan: semua harus lewat kerja keras dan doa. Tak boleh lupa sholat, karena hidup kita tergantung pada Yang di Atas,” ujar Quino Anindya, didampingi Hamida Ohoitenan dan Angelia Ramadhani Ohoitenan.
Berlian Tanjung Ohoitenan, istri Umar, mengungkapkan rasa bangganya pada keindahan alam Kei dan suaminya yang sangat mencintai keluarga. Di mata anak-anaknya, Umar adalah sosok yang bertanggung jawab dan adil. Mereka bangga memiliki ayah yang selalu peduli pada sesama, terutama mereka yang kekurangan dan anak yatim.
Jiwa solidaritas sosial Umar sangat menonjol. Ia dikenal sebagai pemimpin muda asal Maluku yang memiliki kepedulian tinggi. Hal ini tercermin dari pintu rumahnya yang selalu terbuka 24 jam untuk siapa saja, di kompleks perumahan Bina lindung, Pondok Gede, Bekasi.
Umar Kei Ohoitenan adalah sosok pemuda asal Kei yang memiliki pola pikir terbuka dan cerdas. Ia merangkul semua orang, mulai dari pemerintah, politisi, tokoh agama, hingga anak yatim. Pesan sang ibu, Hajah Ar Romlah, selalu ia pegang teguh sejak kecil: kebaikan hati harus didasari iman kepada Allah dan Nabi Muhammad.
Di Pantai Pasir Panjang, anak-anak Umar Kei Ohoitenan mengungkapkan betapa tulus dan cintanya ayah mereka kepada mereka. “Kami semua bangga pada perjuangan ayah,” ujar Dea Belqis Ohoitenan, diamini oleh seluruh anggota keluarga. **(Rika)



More Stories
Sikap dan Pernyataan Ketua Umum FPMM Umar Kei Terhadap Peristiwa di Maluku Tenggara
LMP dan M1R Kecam Dugaan Penghinaan Profesi Serta Rasisme Oleh Oknum Manajer Kursus Bahasa Inggris di Kelapa Gading
Perkuat Silaturahmi, FBR Korwil Jakarta Pusat Gelar Halal Bi Halal Bersama Heri Kustanto, S. H