![]()
Jakarta – MCN.com – Kaum intelektual dan cendekiawan Indonesia kehilangan seorang pemikir sosial, Dr. Ignas Kleden. Ignas Kleden meninggal pada Senin (22/1/2024) di RS Suyoto, Jakarta Selatan, dalam usia 76 tahun. Ignas meninggalkan seorang istri Dr Ninuk Probonegoro dan seorang anak lelaki.
Ignas Kleden merupakan sosok intelektual terkemuka dan langka di Indonesia. Pemikirannya sangat mendalam dan menyasar pada beberapa bidang seperti sosiologi, filsafat sosial, dan sastra Indonesia. Ignas menulis dengan bahasa Indonesia yang teratur,logis, jernih dan dengan kalimat yang sederhana sehingga bisa dibaca dan diikuti jalan pikirannya oleh pembaca umum. Dengan latar belakang filsafat epistemologi yang kuat, tulisan-tulisan Ignas membongkar pendapat, pernyataan, dan argumen yang keliru dalam cara berpikir masyarakat.
Setelah menamatkan studinya di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Ledalero, Maumere, Flores (1966-1974), Ignas berangkat ke Jakarta dan bekerja di Penerbit Obor sebagai editor dan penerjemah buku-buku ilmu sosial pada Yayasan Obor Internasional, Jakarta. Kemudian ia menjadi staf peneliti pada LP3ES, Jakarta. Pada 1981 dia meraih gelar Master of Art Filsafat pada Hochschule für Philosophie, Munich, Jerman (1979-1982, dan meraih gelar doktor sosiologi pada Universitas Bielefeld, Jerman (1989-1995) dengan disertasi berjudul “The Involution of The Involution Thesis: Clifford Geertz’ Studies of Indonesia Revisited” dengan predikat magna cum laude.
Geertz menjadi terkenal di Indonesia karena penelitiannya di Jawa dan Bali, yang menghasilkan beberapa penting tentang Indonesia, seperti “The Religion of Java”. Ignas Kleden kemudian mengkritik argumen yang dipakai Geertz, terutama terkait involusi.
Pengalaman kerjanya dimulai sebagai penerjemah Jerman-Indonesia untuk buku-buku teologi di Penerbit Nusa Indah Ende, Flores, penerjemah buku-buku ilmu sosial di Yayasan Obor Indonesia, staf redaksi jurnal ilmu sosial Prisma, Jakarta, penguji luar Fakultas Politik Monash University Australia, dosen Pascasarjana Fakultas Sosiologi dan Fakultas Psikologi Universitas Indonesi, dosen program pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, dan Dewan Pendiri dan Direktur The Go-East Institute.
Ignas Kleden adalah penulis yang produktif. Tulisannya tersebar di pelbagai media nasional, seperti Prisma, Horison, Basis, Tempo, Kompas, The Jakarta Post, dan majalah luar negeri.
Pada 1988 terbit karyanya “Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan”, disusul “Menulis Politik: Indonesia Sebagai Utopia” (2001), “Masyarakat dan Negara Sebuah Persoalan” (2004), ”Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan” (2004) dan “Fragmen Sejarah Intelektual” (2020). Pada 2003 Ignas memperoleh Penghargaan Achmad Bakrie. Buku-bukunya berisi pemikiran yang mendalam.
Ignas Kleden lahir pada 19 Mei 1948 di Waibalun, Larantuka, Kabupaten Flores Timur, dari sebuah keluarga guru yang sederhana. Kakaknya, Dr Leo Kleden SVD dosen di Ledalero dan adiknya, Hermin Kleden, wartawan senior Majalah Tempo. Ignas aktif sebagai sosiolog, cendekiawan, akademisi, dan kritikus sastra sejak awal tahun 1970-an.
Sejak masih di Flores, Ignas sudah mengenal majalah Horison dan Basis Yogyakarta dan rutin mengirimkan tulisannya ke majalah itu. Dia juga menulis artikel di majalah Budaya Jaya Jakarta. Dia juga menulis artikel semi polemik untuk majalah Tempo dan di Kompas.
Kepergian Ignas Kleden meninggalkan rasa duka. Sosok intelektual yang ramah itu telah berkontribusi bagi intelektualisme di Indonesia lewat pemikiran-pemikiran cerdas dalam pelbagai tulisan dan buku. Ignas adalah intelektual yang rendah hati dan menghargai pendapat orang lain. Dia menyukai demokrasi dan berharap politik di Indonesia dibangun dengan budaya rasionalitas agar tidak menyesatkan publik. **{Rika}



More Stories
Dukung Kegiatan Masyarakat, PjS. Danposbinter Lobam Hadiri Pesta Ketupat Desa Busung 2026
GKTMTB Tegaskan Hak Kelola Perhutanan Sosial Harus Dilindungi Negara
Danlanal Bintan Turut Dampingi Kasal Laksanakan Sholat Idul Adha 1447 H/2026 M di Tanjungpinang