Agustus 26, 2026

Paguyuban Orang Romean di Jabodetabek Konsisten Mengharumkan Nama Tanimbar Lewat Paduan Suara

Spread the love

Loading

Jakarta – MCN.com – Dari dalam Gedung Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, terdengar manis lagu “Gugusan Kepulauanku Maluku Tenggara”. Sejenak para hadirin ikut tenggelam dalam suasana rasa cinta daerah mereka yang terekam dalam lagu itu.

“Gugusan kepulauanku Maluku Tenggara…beraneka ragam kesenian lah kepulauanku…peninggalan sang leluhur, datuk-datukku…”.

Lagu itu dibawakan dengan apik oleh kelompok paduan suara warga asal Desa Romean, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dalam mengisi acara pelantikan pengurus dan deklarasi organisasi Keluarga Besar Maluku Tenggara Raya (KBMTR) di Padepokan Pencak Silat, TMII, Jakarta, Sabtu (26/8/2023).

Keluarga Besar Maluku Tenggara Raya saat ini mencakup Kabupaten Maluku Tenggara, Kabupaten Kepulauan Aru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dan Kabupaten Barat Daya, dalam wilayah Provinsi Maluku.

Lagu “Gugusan Kepulauan” itu diciptakan saat Maluku Tenggara masih menjadi satu kabupaten dengan Kecamatan Aru dan Kecamatan Tanimbar. Walau saat ini Kabupaten Maluku Tenggara itu sudah dimekarkan dan berdirilah Kabupaten Kepulauan Aru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dan Kabupaten Kepulauan Barat Daya, namun lagu “Gugusan Kepulauan” masih terpatri di hari orang-orang tenggara.

Dalam semangat orang-orang tenggara (Ortega) itulah deklarasi Keluarga Besar Maluku Tenggara Raya disambut hangat dan menjadi rumah bersama orang tenggara.

Bukan kebetulan lagu itu dinyanyikan indah oleh Paduan Suara Romean, hari itu. Dalam perantauan mereka di Jabodetabek, di mana mereka harus tinggal berjauhan, semangat budaya orang Romean khususnya dan budaya Tanimbar umumnya telah memanggil mereka untuk bersatu dengan saling berjumpa.

Ketua Paguyuban Romean, Marsel Taluku, mengatakan, orang-orang Romean di Jabodetabek sudah lama memiliki agenda pertemuan keluarga besar Romean, baik pada hari besar keagamaan seperti Natal dan Paskah, juga kegiatan lain, misalnya pertemuan setiap bulan.

Sejak itu pula terbentuk paduan suara, sanggar tari, dan lainnya, termasuk pertemuan untuk sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai adat Romean dan Tanimbar.

Marsel mengatakan paguyuban berdasar adat itu lebih kuat dan mengikat persatuan mereka. Di situ, mereka mencoba membangun kebersamaan dan meneruskan adat istiadat kepada generasi muda mereka.

“Karena sudah biasa berkumpul, jadi mudah saja kita berkoordinasi untuk latihan dalam rangka mengisi suatu event. Bahkan kelompok paduan suara dan tari orang Romean ini sudah sering ikut berpartisipasi dalam kegiatan berskala nasional dan internasional di Jakarta,” tutur Ketua Paguyuban Romean ini.

Hal terpenting menurut Marsel adalah semangat peduli dan saling membantu di antara mereka, terutama bila terjadi kemalangan pada salah satu anggota mereka.

Sementara, Ibu Martha selaku pelatih dan dirigen Paduan Suara Romean yang tampil hari itu, mengatakan, sudah lama dirinya terlibat dalam kegiatan budaya dan kesenian komunitas Romean di Jabodetabek.

Martha yang sehari-hari berprofesi sebagai seorang guru di SD XI Pagi, Pasar Rebo, Jakarta, juga terlibat aktif sebagai majelis di Gereja GPIB Depok. Baik di PGRI maupun GPIB, Martha adalah pelatih sekaligus dirigen Paduan suara. Bersama paduan suara PGRI, kelompoknya sempat menggondol piala juara pertama di DKI Jakarta.

Sebagai orang Romean, Martha senang memberi waktu untuk melatih koor dan sejenisnya kepada keluarga Romean. Ada rasa bangga yang terpatri pada hatinya sejak bisa berkontribusi kepada sesama satu kampung halaman, di perantauan.

Dia melihat, persatuan dan persaudaraan berdasarkan budaya itu menimbulkan perasaan emosional positif sehingga mereka rela berkorban (waktu dan tenaga) demi kebersamaan dan partisipasi yang ikut mengharumkan nama Romean dan Tanimbar.

Martha mengaku dirinya tidak pernah mengikuti kursus agar ia jadi pelatih dan dirigen. “Mungkin ini sebuah talenta yang Tuhan berikan pada saya. Sejak usia 5 tahun, saya sudah tertarik pada dunia tarik suara ini,” akui Martha yang pernah hidup di Pulau Larat sebelum hijrah ke Jawa.

Dirinya hanya bisa bersyukur pada Tuhan, dan dengan talenta itu ia telah lama melayani dan membantu orang lain.

Romean adalah nama sebuah desa di Kecamatan Yaru atau Fordata, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, ribuan kilometer jauhnya dari kota Jakarta.

Namun budaya jualah yang tetap mempersatukan orang Romean, di mana saja mereka merantau karena panggilan hidup. Nilai-nilai budaya itu kini sedang merekam turunkan kepada anak-cucu mereka.

Dan, lagi, alangkah bangganya Keluarga Besar Maluku Tenggara Raya menatap Presiden RI Joko Widodo yang mengenakan pakaian adat Tanimbar saat memimpin upacara bendera pada HUT ke-78 Republik Indonesia di Istana Negara, pada 17 Agustus lalu. **(Rika)