![]()
Jakarta – MCN.com – Membangun Indonesia tidak cukup dengan infrastruktur dan pelbagai program strategis nasional yang butuh biaya besar.
Catatan sejarah Indonesia membuktikan, membangun Indonesia dengan nilai-nilai perekat anak bangsa, dalam lingkungan terdekat dan kehidupan sehari-harinya, jauh lebih efektif dan mulia.
Kita membangun manusia dengan iman dan budayanya. Iman menjadi dasar ia berjuang dalam kepercayaan akan perlindungan Allah. Budaya menjadi dasar bagaimana ia harus berelasi dengan sesama dalam kebersamaan.
Masjid Ar-Romlah, Binalindung, Bekasi, menawarkan paduan iman dan budaya tersebut. Dan, dari Ar-Romlah nilai-nilai religius Islam berpadu dengan nilai-nila budaya dan mengkristal dalam sikap cinta dan peduli pada manusia dan sesama sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.
Dibangun atas dasar cinta anak pada ibu dan ayahnya, Masjid Ar-Romlah yang didirikan oleh Haji Umar Kei Ohoitenan, perlahan-lahan bukan saja menjadi tempat untuk bersembahyang. Masjid Ar-Romlah menjadi tempat di mana peradaban manusia dibangun lewat perjumpaan demi perjumpaan.
Sejak berdiri, Masjid Ar-Romlah telah memanggil banyak jamaah untuk ingat akan Allah, yang setiap saat mendampingi langkah-langkah hidupnya. Suara adzan mengingatkan insan manusia pada Kemahakuasaan Allah. Dekat dengan Allah adalah doa yang tiada tandingannya.
Perlahan namun pasti, Masjid Ar-Romlah telah mengumpulkan banyak jamaah sekaligus mengutus para jemaah itu untuk berbuat baik bagi sesama.
Tetapi, di Masjid ini juga ada satu kebiasaan dari tradisi Islam yang terus dihidupkan dan dikembangkan, yakni tradisi Jumat Barokah. Jumat Barokah dikenal masyarakat Indonesia sebagai aksi peduli pada sesama lewat pemberian makanan atau minuman bagi mereka yang sedang membutuhkan
Di Masjid Ar-Romlah, tradisi seperti itu dikembangkan lebih luas lagi. Usai shalat, Ketua Front Pemuda Muslim Maluku, H. Umar Kei Ohoitenan, SH, selalu mengundang para jamaah untuk bersama-sama menikmati hidangan makanan.
Momentum seperti itu digunakan Umar Kei Ohoitenan untuk membangun silaturahmi dengan sesama muslim. Mereka saling berkomunikasi, membagi pengalaman hidup, memberi kontribusi pikiran dan ide-ide positif untuk terus berada dalam semangat persaudaraan sesama umat muslim dan persatuan anak bangsa Indonesia.
Sebuah pemandangan indah terlihat pada Jumat (31/10/2025). Usai shalat di Masjid Ar-Romlah, Umar mengundang para jamaah untuk bertandang di Aula UK untuk menikmati makan siang dengan hidangan masakan Ikan yang di datangkan khusus dari Kei, yang telah disiapkan keluarganya.
Tak selalu mereka yang datang ke Ar-Romlah adalah jamaah dari masjid itu. Sangat sering jamaah dari masjid di tempat lain datang ke Ar-Romlah. Ada yang baru pertama datang setelah mendengar tentang kegiatan-kegiatan di tempat itu. Pada dasarnya ada rasa penasaran di hati mereka untuk datang ke Ar-Romlah.
Tak bisa disangkal bahwa Umar melanjutkan praktik nilai-nilai budaya Maluku, khususnya masyarakat adat Kei, dalam kegiatan di Masjid yang memakai nama ibunya tersebut.
Nilai-nilai budaya Kei cocok dengan nilai-nilai Islam dan Pancasila. Dalam beberapa kesempatan Umar mengungkapkan bahwa dirinya terdorong untuk membawa nilai, budaya, dan semangat budaya “Ain Ni Ain” orang Kei dalam lingkungan pekerjaan dan organisasi yang dipimpinnya.
Dalam semangat “merasa saling memiliki satu sama lain” (Ain Ni Ain) itulah Umar merangkul semua anak Maluku dan Indonesia dalam organisasinya, tanpa memandang latar belakang seseorang.
Bagi Umar, berjumpa dan berinteraksi dengan sesama, siapapun dia, adalah hal yang paling menggembirakan hatinya.
Dalam perjumpaan-perjumpaan itu Umar mendengar pandangan dan perasaan sesamanya, entah yang tua maupun yang muda. Ia bersikap membuka diri pada pemikiran orang lain dan belajar dari suka dan duka mereka.
Di mata Umar, sesama adalah orang-orang yang diutus Allah untuk “menyampaikan” sesuatu yang bermakna bagi diri kita yang mendengarkan suara mereka, atau juga sebagai teguran dari Sang Maha Kuasa kepada kita.
Itu semua menjadi pelajaran penting bagi Umar dalam meniti langkah-langkah hidupnya. Semangat kepemimpinan pun lahir dari sini dan berakar dalam dirinya.
Salah satu kekuatan kepemimpinan Umar Kei Ohoitenan dalam memimpin Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM) adalah sikap mendengarkan anggotanya dan memberi solusi terhadap hal yang sedang dipersoalkan.
Dengan model kepemimpinan yang berakar pada sikap simpatik dan mendengarkan sesama itulah organisasi FPMM yang didirikan Umar terus melebarkan sayapnya dengan berfokus kepada kegiatan-kegiatan sosial kemanusiaan.
Melihat pelbagai kegiatannya bersama FPMM, banyak pihak mengajar bekerja sama dengan Umar, termasuk dari tokoh politik. Umar masih terus fokus memajukan organisasi dan bisnisnya, dan tak bisa dilupakan adalah fokusnya membantu anak yatim dan kaum duafa.
Semangat peduli pada orang kecil itu sesungguhnya berasal dari pesan sang bunda, Ar-Romlah. Pesan itu terpatri kuat dalam diri Umar Kei Ohoitenan. Dari Masjid Ar-Romlah, Umar telah memberangkatkan ratusan jamaah untuk umroh, menikahkan pasangan suami-istri, dan mensholatkan para jamaah yang meninggal.
Pesan sang bunda itu Umar persembahkan untuk Indonesia. Ya, dari Ar-Romlah untuk Indonesia. **(Rika)



More Stories
Sikap dan Pernyataan Ketua Umum FPMM Umar Kei Terhadap Peristiwa di Maluku Tenggara
LMP dan M1R Kecam Dugaan Penghinaan Profesi Serta Rasisme Oleh Oknum Manajer Kursus Bahasa Inggris di Kelapa Gading
Perkuat Silaturahmi, FBR Korwil Jakarta Pusat Gelar Halal Bi Halal Bersama Heri Kustanto, S. H