Mei 14, 2026

KB UI Bersama ILUNI UI FIB Gelar MeiLawan 2026, Dorong Generasi Muda Rawat Ingatan Tragedi Mei 1998

Spread the love

Loading

Depok – Keluarga Besar Universitas Indonesia bersama ILUNI UI FIB, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, dan BEM FIB UI 2026 menggelar rangkaian kegiatan “MeiLawan Merawat Ingatan” pada 11–13 Mei 2026 di Kampus UI Depok. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi lintas generasi untuk merawat ingatan kolektif atas Tragedi Mei 1998 sekaligus menyuarakan penolakan terhadap kekerasan seksual dan berbagai bentuk kekerasan berbasis gender.

 

Keterlibatan KB UI dalam kegiatan ini disebut sebagai bentuk komitmen sivitas dan alumni Universitas Indonesia dalam menjaga nilai kemanusiaan, demokrasi, dan keberpihakan terhadap korban kekerasan.

 

Pengarah kegiatan sekaligus Ketua ILUNI UI FIB, Visna Vulovik, mengatakan kolaborasi antara KB UI, ILUNI UI FIB, FIB UI, dan mahasiswa menjadi penting agar ingatan sejarah tidak berhenti sebagai arsip masa lalu, melainkan menjadi pelajaran bersama bagi generasi muda.

 

“Tragedi Mei 1998 bukan hanya tentang kerusuhan sosial dan perubahan politik, tetapi juga tentang luka kemanusiaan yang belum sepenuhnya pulih, termasuk kekerasan seksual terhadap perempuan. Karena itu, KB UI bersama seluruh elemen kampus ingin memastikan ruang akademik tetap menjadi ruang yang kritis, aman, dan berpihak pada nilai kemanusiaan,” kata Visna dalam keterangannya, Rabu, 13 Mei 2026.

 

Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Dr. Untung Yuwono, menilai kegiatan tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab moral institusi pendidikan dalam menjaga memori kolektif bangsa.

 

Menurut dia, humaniora tidak hanya mengajarkan sejarah dan budaya, tetapi juga keberanian memahami penderitaan manusia dan ketidakadilan yang kerap dibungkam.

 

“Kami berharap kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat kesadaran mengenai pentingnya keadilan gender, perlindungan korban, dan penghormatan terhadap martabat manusia,” ujarnya.

 

Dalam diskusi utama bertajuk Belajar dari Luka Bangsa: Kekerasan Seksual di Era Reformasi dan Kebangkitan Generasi Muda, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dari Fraksi PDI Perjuangan, Rieke Diah Pitaloka, menyoroti peningkatan kasus kekerasan seksual di institusi pendidikan akibat relasi kuasa yang tidak setara.

 

Menurut Rieke, penanganan kekerasan di lingkungan pendidikan masih berjalan sektoral dan belum memiliki sistem perlindungan nasional yang terintegrasi. Ia juga mendorong percepatan pengesahan Peraturan Presiden tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lembaga Pendidikan.

 

“Perlindungan terhadap peserta didik dan sivitas pendidikan tidak bisa lagi dilakukan secara parsial. Dibutuhkan tata kelola perlindungan yang terintegrasi dan berpusat pada korban,” ujar Rieke.

 

Rangkaian MeiLawan 2026 menghadirkan berbagai agenda reflektif dan edukatif, mulai dari live mural, pemutaran film dokumenter, pameran instalasi, pertunjukan seni, hingga aksi simbolik menyalakan lilin dan tabur bunga untuk mengenang korban Tragedi Mei 1998.

 

Kegiatan ini juga menghadirkan sejumlah narasumber dan tokoh publik, di antaranya Ketua Komnas Perempuan Maria Ulfah Anshor, Komisioner Komnas HAM Amiruddin al Rahab, serta Direktur Tindak Pidana Perlindungan Perempuan dan Anak dan Pemberantasan Perdagangan Orang Bareskrim Polri Brigjen Pol. Nurul Azizah.