![]()
Jakarta – MCN.com – Setelah memberangkatkan jamaah umroh pada pertengahan Juli lalu, kini Ketua Umum DPP Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM) Haji Umar Key Ohoitenan, S.H, menerima kedatangan mereka di kediamannya, kompleks Binalindung, Bekasi, Selasa (22/7/2025).
Umar Key Ohoitenan menjemput langsung para jamaah itu di Bandara Sukarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang. Dalam rombongan itu terdapat istrinya, Sri Rahayu Ohoitenan, dan mertuanya.
Sebelumnya, Umar dan keluarganya memberangkatkan 9 orang keluarga FPMM ke tanah suci untuk menjalankan ibadah umroh. Mereka adalah Sri Harmami Oesman, Sri Rahayu Ohoitenan, Amina Rahawarat, Manyih Suhani, Rohim, Adin Samual Ibrahim, Margo Cahyo Saputra, Rumlan Ohoitenan, dan Hasan Yeubun.
Ini bukan pemberangkatan yang pertama. Setiap tahun Umar Key Ohoitenan memberangkatkan jamaah ke tanah suci, Timur Tengah.
Setibanya rombongan jamaah umroh di Binalindung, Bekasi, mereka disambut grup Hadarat Kei. Suara rebana menggelegar di sekitar lokasi. Ibu-ibu dengan pukulan rebana Burdah dari keluarga Umar Key Ohoitenan semakin menyemarakkan penyambutan tersebut.
Setelah itu para jamaah umroh melakukan sembahyang di Masjid Ar-Romlah dan dilanjutkan dengan makanan bersama yang disediakan oleh keluarga Umar Ohoitenan.
Kesan dan pesan selama perjalanan dan kegiatan umrah disampaikan beberapa orang. Pengalaman tersentuh dengan Allah selama umrah menjadi pengalaman yang hampir dimiliki setiap jamaah. Banyak cerita yang mereka miliki tentang perjalanan ke tanah suci.
Drs Haji Hasan Yeubun mengatakan perjalan umrah kali ini terbilang lancar dan menyenangkan. “Alhamdulillah perjalanan umroh kali ini sangat lancar dan sangat berkesan, karena semua berjalan sesuai dengan hukum dan syarat. Kami bahu-membahu dan saling mendukung seperti satu keluarga besar. Karena diikat oleh kekeluargaan dan ikatan islamiah, dengan niat yang sama. Tidak ada masalah,” tutur Hasan Yeubun.
Hasan Yeubun mengatakan, selama di tanah suci dirinya selalu cenderung mengambil posisi di belakang istri tertua Umar Key Ohoitenan dan mertua Umar itu.
Dia hanya ingin mengantisipasi berbagai kemungkinan yang bisa terjadi pada diri mertua Umar Key Ohoitenan itu yang sudah tua. Istri Umar, Sri Rahayu Ohoitenan selalu menggandeng ibunya selama menjalankan umrah.
Hasan sadar bahwa dalam menjalankan ibadah haji dan umrah, setiap jamaah membutuhkan fisik yang segar dan kuat, karena kegiatan itu terbilang membutuhkan fisik yang kuat.
Melihat istri Umar menggandeng ibunya, Hasan Yeubun terbayang pada pada ibunya sendiri, yang kini telah meninggal. Secara pribadi, ia juga rindu menggandeng tangan ibunya itu dalam umrah dan haji.
Hasan Yeubun mengakui membawa 13 orang jamaah umroh, 8 dari Jakarta yang dibiayai Umar Key Ohoitenan.
“Dalam umroh kali ini jamaah saya ada 13 orang, 8 orang dari Jakarta dibiayai oleh Umar Key Ohoitenan. Kemudian, ada juga jamaah saya dari Papua Barat,” ujar pensiunan PNS Kementerian Agama RI itu.
Menurut Hasan Yeubun, pada intinya, umroh maupun haji itu merupakan bukti Allah memampukan orang-orang yang ingin melakukan umroh dan haji dengan hati yang merindukan Allah.
Hasan mengaitkan hal itu dengan bukti pengalaman bahwa ada orang yang tidak mampu secara finansial untuk membiayai kepergiannya untuk umrah, tetapi tiba-tiba ada orang lain yang mau membiayainya. Banyak terjadi pengalaman seperti itu.
“Itulah nasib dia. Allah memampukan dia sehingga biaya haji atau umrahnya dibantu orang lain, sehingga tiba-tiba dia diberangkatkan,” ujar Hasan.
Hasan mengatakan ada banyak orang yang mampu secara ekonomi dan finansial, tetapi saat berencana ke tanah suci, justru mendapat banyak halangan sehingga tak jadi pergi ke sana.
Dalam konteks pengalamannya bersama FPMM, Hasan Yeubun melihat secara rohani betapa Allah membantu para jamaah itu lewat kebaikan hati Umar Key dan keluarganya.
“Karena selalu membantu orang lain, maka Umar Key banyak mendapat rezeki dari Allah. Tapi, rejeki ini kemudian dia berikan kepada orang lain, saudara-saudara Muslim, untuk menjalankan ibadah haji dan umrah.
Umar Key Ohoitenan, dalam pandangan Hasan, adalah pribadi yang berjiwa sosial dan Islamiah.
“Dia tidak memandang orang dari asal-usul suku, agama, dan golongannya. Dia berbuat baik bukan hanya untuk melakukan haji dan umrah. Saya melihat rejeki ini keluar dari hati beliau dan istri-istrinya, yang ridho-ikhlas dan dibagi-bagikan untuk orang lain. Dia sangat menekankan semangat kita semua sebagai bersaudara. Sosok seperti Pak Umar ini tak mudah dicari dalam masyarakat,” tutur Haji Hasan Yeubun.
Sudah 30 tahun Hasan Yeubun tinggal di Jakarta. Dia pensiunan pegawai negeri sipil Kantor Kementerian Agama. Dirinya sempat ditugaskan selama 10 tahun sebagai Kepala Madrasah Aliyah Negeri 5 Jakarta Utara dan Madrasah Aliyah Negeri 6 Jakarta Timur.
Sementara, Ketua Umum DPP FPMM Umar Ohoitenan mengatakan dirinya akan memberangkatkan 40 jamaah umroh dan haji dalam setahun. Itu akan dilakukan pada tahun depan, 2026. Rombongan yang berjumlah 40 jamaah itu akan dibagi dua dan diberangkatkan dalam dua kesempatan yang berbeda. Kesempatan pertama terdiri dari 20 jamaah peserta dan ke-20 jamaah berikutnya diberangkatkan pada kesempatan yang lain.
Umar Key Ohoitenan semakin berkeinginan agar ada banyak jamaah yang bisa diberangkatkan setiap tahun. Keinginan itu tentu saja berakar dalam iman Umar dan keluarganya.
Dalam beberapa kesempatan, Umar sering bertutur bahwa sebagai muslim dirinya tidak hanya bekerja untuk mendapatkan harta, tetapi bagaimana harta itu juga bisa dibagikan kepada sesama muslim yang membutuhkan.
Sikap kepedulian sosial Umar ini tak lepas dari realitas sosial masyarakat Indonesia yang ada di sekeliling dirinya, yang hidup dalam kesederhanaan, bahkan terkungkung dalam rantai kemiskinan, sehingga mereka perlu dibantu.
Pelbagai kegiatan dan program FPMM, selama ini, tak lain merupakan terjemahan dari visi dan misi sosial Umar terhadap masyarakat yang masih membutuhkan uluran tangan sesamanya.
Seperti kata Hasan Yeubun, sosok Umar memberi inspirasi bagi umat muslim dalam menghayati Islam itu sendiri. Islam harus menjadi rahmat bagi orang lain, dan pada diri Umar rahmat itu sedang ditebarkan. **(Rika)



More Stories
28 Tahun Reformasi 1998: Demokrasi Tumbuh, Oligarki Menguat, Keadilan Sosial Masih Diperebutkan
Sikap dan Pernyataan Ketua Umum FPMM Umar Kei Terhadap Peristiwa di Maluku Tenggara
LMP dan M1R Kecam Dugaan Penghinaan Profesi Serta Rasisme Oleh Oknum Manajer Kursus Bahasa Inggris di Kelapa Gading