![]()
Jakarta – MCN.com – Di tengah wacana sosial politik yang kurang nyaman saat ini terkait aksi premanisme, Direktorat Pembinaan Masyarakat Polda Metro Jaya mengambil inisiatif mengadakan silaturahmi dengan organisasi masyarakat guna bersama-sama membangun relasi yang harmonis dengan masyarakat.
Stigma premanisme yang mencuat di tengah masyarakat dalam dua Minggu terakhir dikhawatirkan menimbulkan salah persepsi dan salah paham, yang dapat berujung pada gesekan sosial di tengah masyarakat Jakarta.
Silaturahmi dan deklarasi anti premanisme oleh seluruh ormas di Jakarta, digelar di Hotel Menara Peninsula, Jakarta Barat, Kamis (22/5/2025).
Para pemimpin ormas dan jajarannya turut hadir dalam deklarasi itu dan berjanji ikut menciptakan suasana damai di tengah masyarakat Jakarta dalam mendukung program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Deklarasi anti premanisme itu sejalan dengan semangat dasar Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Masyarakat (Ormas).
Ormas adalah wadah yang menghimpun anggotanya untuk membantu masyarakat, sesuai dengan UU Ormas dan AD/RT setiap ormas. Sejak lahir, sebuah ormas sudah memiliki visi sosial, yaitu membantu masyarakat dan membantu pemerintah. Karena itu, setiap ormas adalah aset bangsa.
Walau demikian, setiap ormas harus menghadapi tantangan dari masyarakat, baik yang mendukung maupun yang masih kurang simpatik pada ormas.
Usai deklarasi, Sekjen DPP Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM) Elbarack Husein mengatakan dukungan dan apresiasi kepada Polda Metro Jaya yang berinisiatif mengundang seluruh ormas di Jakarta mendeklarasikan gerakan anti premanisme.
“Kegiatan hari ini dilaksanakan oleh Polda Metro Jaya untuk mengajak seluruh ormas di Jakarta bersilaturahmi dan mendeklarasikan anti premanisme,” tutur Elbarack Husen, S.H, di Hotel Peninsula, Jakarta Barat.
Sebagai ormas, FPMM memiliki AD/RT, visi dan misi yang jelas. “FPMM lahir dari rahim masyarakat dan terpanggil untuk membantu masyarakat dalam pelbagai kegiatan sosialnya.
“Kita harus sadar diri bahwa kita lahir dari masyarakat, sehingga kita harus peduli dan solider dengan masyarakat, bukan sebaliknya memusuhi masyarakat. Kita menamakan diri kita ormas, tetapi jangan sampai kita dianggap sampah masyarakat akibat perbuatan kita,” ujar Elbarack.
Berbicara tentang FPMM, Elbarack menegaskan, ormas ini mendasarkan dirinya pada iman Islam, sehingga nilai-nilai Islam perlu mewarnai pikiran dan perilaku anggotanya. Karena itu, premanisme bertentangan dengan iman Islam. FPMM, kata Elbarack, menolak premanisme, kekerasan, teror, dan menolak membuat gaduh di tengah masyarakat.
Sekjen Elbarack mengatakan, sejak berdiri pada 2010, FPMM lebih banyak bergerak di bidang sosial, misalnya memberi santunan kepada anak yatim, menyediakan beasiswa bagi mahasiswa yang tak mampu melanjutkan kuliah karena keterbatasan dana, menggelar aksi sosial seperti donor darah, membantu pelaku UMKM, dan lebih daripada itu Ketua FPMM Haji Umar Kei Ohoitenan selalu terlibat dalam mencari solusi bagi kelompok-kelompok yang sedang berkonflik.
Sementara Ketua DPW FPMM DKI Jakarta, Murad Malawat, mengungkapkan, sejak berdiri anggota FPMM tidak pernah melaksanakan kegiatan di luar AD/RT FPMM. “Ketua Umum FPMM Haji Umar Kei Ohoitenan, S.H, selalu ingatkan seluruh jajaran FPMM baik DPP, DPW, dan DPD di seluruh Indonesia untuk bekerja sesuai AD/RT FPMM.
Murad Malawat juga menegaskan sudah ada UU Nomor 17 Tahun 2014 yang menjadi dasar hukum semua ormas, selain Peraturan Mendagri Nomor 57 Tahun 2017. “Jadi, kalau kita bicara ormas dengan premanisme itu ibarat air dan minyak, yang tidak bisa bersatu alias paradoks. Premanisme tak punya dasar hukum. Karena itu, benturan biasa terjadi di level oknum saat melakukan tugas mereka,” kata Murad.
Ketua DPW FPMM DKI Jakarta itu juga mengatakan bahwa Ketum FPMM Umar Ohoitenan melarang anggotanya memakai atribut FPMM saat melaksanakan tugas demi menghindar dari prasangka dan gesekan yang bisa terjadi. “Perlu diingat, Ketua FPMM kami itu sangat cinta damai. Hal itu bisa dilihat pada kemampuan Haji Umar Kei Ohoitenan ikut mendamaikan beberapa tokoh nasional dan lokal yang sedang berkonflik,” tutur Murad Malawat.
Bersama FPMM, Umar Kei Ohoitenan telah dipandang sebagai tokoh muda Maluku di Jabodetabek yang mampu merangkul kelompok-kelompok suku Maluku dan Maluku Utara dalam semangat persaudaraan lokal “pela-gandong”, dan “ain ni air”. Umar Ohoitenan sangat peduli dengan masyarakat Maluku di perantauan. Dia merangkul mereka sebagai keluarganya sendiri. Kediamannya menjadi pertemuan sesama anak Maluku, dan Umar tak pernah membiarkan mereka lapar. Pintu rumahnya selalu terbuka untuk siapa saja, tak melihat latar belakang seseorang.
FPMM juga terbuka. Anggotanya tak terbatas warga Maluku saja, tapi warga dari Aceh hingga Merauke. Tak terbatas pada komunitas Muslim saja, tetapi banyak anggotanya, saat ini, juga beragama non-muslim. Umar ingin kekerabatan di Maluku dan kampung halamannya di Maluku Tenggara bisa diterapkan dalam hidup warga Maluku di perantauan.
Dengan deklarasi anti premanisme itu, Murad Malawat berharap, ormas-ormas di Jakarta lebih sering mengadakan silaturahmi agar saling mengenal dan selanjutnya memberi kontribusi kepada masyarakat Jakarta.**(Rika)



More Stories
LMP dan M1R Kecam Dugaan Penghinaan Profesi Serta Rasisme Oleh Oknum Manajer Kursus Bahasa Inggris di Kelapa Gading
Perkuat Silaturahmi, FBR Korwil Jakarta Pusat Gelar Halal Bi Halal Bersama Heri Kustanto, S. H
Semangat Persaudaraan “Ain Ni Ain” Idul Fitri Menguat Umar Key Teteskan Air Mata Sambut Saudara Kristen Maluku di Kediaman