September 22, 2026

Rayakan Idul Fitri di Kediaman Umar Ohoitenan Pertemukan Saudara Maluku Kristen dan Islam

Oplus_131072

Spread the love

Loading

Jakarta – MCN.com – Momentum rohani Hari Kemenangan Idul Fitri 1446 Hijriah/2025 tak hanya menjadi kegembiraan bagi umat Muslim Maluku di Jabodetabek, melainkan juga ikut dirasakan oleh umat Kristiani asal Maluku dan Maluku Utara di tanah perantauan Jabodetabek.

Hal itu terlihat dalam acara Open House yang diadakan oleh Ketua Umum Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM), H. Umar Ohoitenan, S.H, di kawasan perumahan Bina Lindung, Bekasi, Senin (31/3/2025). Open House di kediaman H. Umar Ohoitenan itu berlangsung selama tiga hari, mulai Senin hingga Rabu (2/4/2025).

Pada Open House hari pertama, sudah terlihat banyak kerabat yang datang bersilaturahmi dengan Umar dan keluarganya. Mereka mengungkapkan rasa syukur telah melewati bulan Ramadhan dengan puasa dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Yang menarik perhatian, pada Idul Fitri hari pertama ini, adalah kedatangan sesama saudara Umar dari umat Kristiani, yang dipimpin oleh Pendeta Derk Musa Hukubun, S.Th.

Mereka diterima Umar di Gedung UK. Umar mengatakan, kedatangan dan silaturahmi dari saudara-saudara Kristiani di Hari Idul Fitri sudah menjadi tradisi orang Indonesia bagian timur, namun yang menarik adalah kekerabatan dan persaudaraan pela gandong sangat terasa.Begitu pula saat Natal, umat Muslim Maluku akan berkunjung ke rumah-rumah keluarga Kristen dan Katolik.

Umar kemudian meminta saudara-saudara Kristen membentuk formasi barisan agar dapat melakukan silaturahmi kepada saudaranya yang Muslim.

Setelah itu, kelompok umat Kristen mulai menyalami saudaranya yang beragama Islam, dengan memberi salam dan saling maaf-memaafkan lahir dan batin. Satu per satu mereka saling menjabat tangan, berpelukan lazimnya orang satu keluarga.

Sambil mengucapkan minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin, Umar memperkenalkan siapa saja yang hadir dalam silaturahmi tersebut baik dari umat Muslim maupun umat Kristiani.

“Kami di sini, ada saudara yang berasal dari Saparua, Seram, Jailolo, Banda Neira, Ambon, Kei, Dobo, Tanimbar, dan Maluku Utara. Semua ada di sini. Kita mensyukuri semuanya, semua persaudaraan ini. Kita bersyukur kepada Tuhan,” tutur Umar.

Sementara itu, Pendeta Derk Musa Hukubun mengatakan persaudaraan orang Maluku selalu indah. ia mengingatkan bahwa persaudaraan “orang satu darah” tak bisa putus, sampai kapanpun.

“Pada kesempatan yang bahagia ini, kami sangat senang datang ke sini. Pada hari ini, katong orang satu darah seng bisa pisah. Karena itu, mari kita saling bergandeng tangan karena katong tak bisa pisah,” ucap Pendeta Hukubun yang juga berasal dari Kei.

Saat sesama saudara berjabatan tangan, Umar meminta semua peserta silaturahmi itu bernyanyi bersama untuk lebih mempererat persaudaraan khas orang Maluku. Perlahan-lahan suara musik mulai mengalun dan mengantar semua saudara dalam gedung menyanyikan lagu “Gandong”.

Sambil bergandengan tangan satu sama lain, mereka tenggelam dalam suasana hati yang terharu-biru:

“Gandong lah mari gandong, mari jua ale yo//Beta mau bilang ale katong dua satu gandong//Hidup ade deng kaka sungguh manis lawang e//Ale rasa beta rasa. Katong dua satu gandong.
Gandong e, sio gandong e
Mari beta gendong, beta gendong ale jua//Katong dua cuma satu gandong e//
Satu hati, satu jantung e”.

Lagu yang selalu dinyanyikan dalam acara-acara persaudaraan orang Maluku itu menunjuk pada pandangan budaya Maluku terhadap persaudaraan dan persatuan.

Dalam budaya Maluku nilai persaudaraan memiliki posisi sentral, karena diikat dalam satu darah. Konsekuensinya, dalam hidup, kebersamaan dijunjung tinggi karena sebuah kebersamaan berakar dalam persaudaraan di mana darah keturunan selalu bersifat mengikat satu sama lain. Sehingga, susah atau senang dalam kehidupan seseorang selalu ditanggung bersama.

Filosofi “pela-gandong” inilah yang selalu mengikat solidaritas antar anak Maluku untuk melangkah ke arah positif dalam hidup.

Nilai-nilai Idul Fitri sejalan dengan nilai-nilai kearifan lokal Maluku dan Indonesia pada umumnya. Umar Ohoitenan, dalam hidupnya, juga selalu mendorong siapa saja untuk hidup dalam damai dengan sesama dan saling peduli. **(Rika)