Oktober 26, 2026

Srikandi FPMM Gelar Pemberian Takjil di PGC Cililitan, Ridho Yahya: Rasa Solider Kita Harus Kuat 

Spread the love

Loading

Jakarta – MCN.com – Kegiatan pemberian takjil menjelang buka puasa bersama terlihat di mana-mana, setiap sore, selama Bulan Ramadhan. Tak terkecuali, sore ini, Jumat (21/3/2025) di samping PGC Mall, Cililitan, Jakarta Timur. Sekelompok ibu-ibu dari Srikandi FPMM (Front Pemuda Muslim Maluku) dengan seragam putih hijau, dengan gesit membagikan takjil kepada pengendara motor yang lewat, tukang ojek, ibu janda, anak yatim, dan masyarakat di sekitar area tersebut

Kegiatan tersebut menarik perhatian masyarakat, karena Srikandi FPMM merupakan kelompok yang sudah dikenal. Dengan senyum mengembang, para ibu mendekati setiap orang dan menyerahkan takjil, makanan dan minuman untuk berbuka puasa.

Sebanyak 30 anggota, ibu-ibu Srikandi FPMM, yang didampingi Pembina Srikandi, Ibu Atty Ohoitenan, dan Ketua Srikandi Ibu Ridho Yahya, melayani warga masyarakat.

Ibu Atty Ohoitenan, saat pemberian takjil itu, mengatakan, rasa solider dengan sesama anak bangsa tak boleh mengendur sekalipun masyarakat sedang lesu. Atty melihat bulan Ramadhan menjadi momentum bagi umat Muslim untuk membangun kebersamaan.

Hal senada juga disampaikan Ibu Ridho Yahya, bahwa semua umat Muslim dipanggil untuk berbuat kebaikan bagi sesama. “Pemberian takjil pada sore ini merupakan wujud kepedulian kita kepada sesama, terutama kepada masyarakat kecil yang membutuhkan takjil sedang menjalankan puasa ” tutur Ketua Srikandi FPMM

Pemberian takjil menjadi sebuah kegiatan positif di kalangan masyarakat Indonesia, pada Bulan Puasa. Walau demikian, tahun ini, Bulan Ramadhan dijalani umat Muslim di tengah suasana ekonomi masyarakat Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja. PHK tengah terjadi di mana-mana dan membuat orang kehilangan pekerjaan. Kaum muda pekerja tengah sulit mendapatkan pekerjaan. Lulusan sarjana hanya bisa menjadi tukang ojek dan sopir. Tingkat kemiskinan masyarakat masih tinggi.

Pemandangan inilah yang tengah dialami masyarakat Indonesia. Maka, sebuah solidaritas sosial sangat dibutuhkan. Masyarakat bangsa Indonesia dikenal dengan sikap solidaritasnya.

Tentu saja kehadiran Srikandi disambut hangat warga yang tengah menunggu waktu berbuka puasa, sore itu. Bukan seberapa banyak takjil yang diterima masyarakat, tetapi rasa peduli ibu-ibu Srikandi itulah yang menyentuh hati mereka yang sedang berpuasa.

Bukan hanya aksi memberi takjil saja, tetapi Srikandi FPMM selalu hadir di tengah masyarakat dan membantu mereka yang tengah dilanda musibah, seperti banjir besar yang melanda Bekasi dan sekitarnya beberapa wilayah, belum lama ini.

Dibawah Ketua Umum FPMM, Haji Umar Kei Ohoitenan, S.H, Srikandi didorong terlibat bersolider dengan masyarakat kecil di Jabodetabek. Banyak aksi kemanusiaan sudah dilakukan kelompok ini dan mendapat respons positif dari warga dan pemerintah.

Tradisi takjil sudah berlangsung lama di Indonesia. Sebuah catatan tua ditulis oleh sejarawan Snouck Hurgronje dalam “De Atjehers” yang mengisahkan bahwa orang-orang Muslim Aceh telah mengadakan takjil di masjid dengan makan bubur panas. Itu pada abad ke-15.

Catatan lain mengatakan bahwa tradisi takjil dipakai para Wali Songo dalam menyebarkan Islam di Jawa.

Ini memperlihatkan tradisi pemberian takjil sudah menjadi salah satu tradisi dalam bulan Ramadhan, di Indonesia.

Semula takjil berarti menyegerakan berbuka puasa. Kemudian, makna itu diperluas menjadi makanan dan minuman untuk berbuka puasa.

Bulan Puasa adalah bulan suci yang diberikan Allah kepada manusia untuk merenungkan dirinya dan kedosaannya dalam rangka membangun relasi harmonis dengan Allah.

Di tengah bangsa yang tengah mengalami krisis kemanusiaan akibat perilaku serakah dalam bentuk korupsi dan praktik ketidakadilan, selayaknya Bulan Ramadhan ini menjadi saat untuk mengubah diri dan perilaku sosial terhadap sesama. “Memiliki harta yang banyak itu tak ada gunanya, bila Anda tak pernah mau solider dengan sesama,” pesan Ketua Umum FPMM, H.Umar Kei Ohoitenan, S.H. **(Rika)