April 30, 2026

Tokoh Perempuan Muda Yulce Magai Minta Bupati Terpilih Beri Perhatian Pada Kaum Perempuan Puncak – Papua

Spread the love

Loading

Jakarta – MCN.com – Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Puncak Nomor Urut 01 Elvis Tabuni, S.E,M.M dan Naftali Akawal, S.E diputuskan Mahkamah Konstitusi sebagai pemenang Pilkada 2024 dan berhak memimpin Kabupaten Puncak, Papua, Senin (24/2/2025).

Dengan putusan MK tersebut Elvis Tabuni dan Naftali Akawal resmi menjadi pemimpin di kabupaten itu. Elvis dan Naftali meraih suara terbanyak, sejumlah 61.310 suara.

Dalam sambutan kemenangannya, Bupati Elvis Tabuni mengatakan, “Kami menjadi bupati ini oleh kita, dari kita, untuk kita, membangun Kabupaten Puncak. Sesuai dengan moto kita, mari kita bersatu. Saat pilkada, bapa lari ke sana, mama lari ke sini, anak juga lari ke situ, ikut dukung kelompok masing-masing. Sekarang, lawan jadi teman dan teman jadi kawan. Semua demi kebaikan masyarakat Kabupaten Puncak, tempat yang sangat aman untuk kita semua,” tutur Tabuni.

Menyambut kemenangan Tabuni dan Akawal, Tokoh Perempuan Muda, yang juga Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Tengah (PPT) Perwakilan Kabupaten Puncak Yulce Magai, S.E, memberikan apresiasi dan harapannya, usai keputusan Mahkamah Konstitusi tersebut. Yulce menyampaikan pendapatnya di depan Bupati dan Wakil Bupati terpilih, Ketua DPRD Kabupaten Puncak, dan sejumlah tokoh politik, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan para pendukung Tabuni-Akawal yang hadir di Jakarta.

“Setelah kemenangan ini, saya mohon kepada Bapak Bupati dan Wakil Bupati untuk membuat kerjasama guna merangkul masyarakat Kabupaten Puncak seutuhnya tanpa membeda-bedakan satu dari yang lain. Kita mulai dari nol, karena menurut saya Kabupaten Puncak sudah rusak. Saya yakin Bapa-bapa akan membenahi semua yang rusak itu dan membawa perubahan bagi masyarakat di Kabupaten Puncak,” ucap Yulce yang saat ini bertugas di Provinsi Papua Tengah.

Untuk itu Yulce Magai berharap, pertama-tama, pastikan dulu bahwa di Kabupaten Puncak suasana damai dan pastikan bahwa pembangunan akan jalan.

Sebagai tokoh perempuan muda Papua Tengah, Yulce menyesali bahwa sampai hari ini kaum perempuan Kabupaten Puncak belum pernah diberi jabatan sebagai kepala dinas, anggota DPRD.ia merasa, perempuan Puncak tidak dilibatkan dalam pemerintahan di Kabupaten Puncak.

“Sehingga pada momen ini, saya minta kepada Bupati untuk lebih banyak memperhatikan kaum perempuan, terutama kami perempuan yang pernah bersekolah. Perempuan-perempuan sudah bersekolah, tapi tidak pernah diberi kesempatan. Untuk menjadi kepala dinas, tidak boleh diambil orang dari tempat lain, tapi fungsikan kami yang ada,” tegas Yulce.

Yang kedua, Yulce Magai, S.E, mengatakan jangan lupa mengapresiasi anak-anak asli Puncak yang sudah dilahirkan perempuan Puncak. Bila ada yang sudah selesai sekolah, mereka harus beri mereka kesempatan kerja demi mengurangi angka pengangguran. “Karena saya melihat selama ini, kantor pemerintahan Puncak dikuasai oleh teman-teman dari luar. Sementara, anak asli disingkirkan. Seharusnya, SDM orang Puncak bisa lebih diberdayakan,” tegas Yulce.

Hal lain yang diungkapkan Yulce adalah terkait partai politik. Dia mengatakan, selama ini, partai politik selalu mengutamakan orang pendatang untuk menduduki kursi komisi, kursi DPRD, DPR RI. “Mulai hari ini, stop. Ketua partai tidak boleh jual beli harga diri kami orang Puncak,” tegas Yulce.

Saat ini, Yulce Magai bekerja bagi kaum perempuan dan anak Papua Tengah. Dia berharap Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Puncak saat ini lebih fokus kepada perempuan dan anak-anak yang ada di 25 Distrik, Kabupaten Puncak. Yaitu anak-anak dari TK sampai perguruan tinggi.

Dalam beberapa periode lalu, perempuan Puncak tidak diutamakan atau malah diabaikan pemerintah. “Karena itu, saya sampaikan kepada Bupati terpilih, bahwa lebih baik, sebelum kerja, pikirkan program pemberdayaan kaum perempuan Puncak. Dorong terus kaum perempuan Puncak agar mereka bisa memegang jabatan-jabatan strategis demi memajukan masyarakat Puncak. Pos-pos penting seperti kepala dinas, pelaku usaha, calon anggota DPRD,bahkan calon bupati diberi akses untuk memimpin di sana,” kata Yulce, tokoh perempuan muda Papua Tengah.

“Sekarang perempuan juga bisa, mampu. Tapi pemerintah tidak pernah memberikan kesempatan hingga hari ini saya minta kepada Bupati terpilih untuk memperhatikan perempuan. Karena perempuan lebih tahu suami makan apa, istri makan apa, dan anak-anak makan apa. Perempuan adalah tulang punggung keluarga,” tutur Yulce kepada awak media di Jakarta.

“Saya dari Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah, sehingga saya lebih memahami masyarakat di kabupaten ini. Yang saya tahu adalah masih banyak distrik yang tidak punya SD sehingga tidak ada anak kecil yang bisa disekolahkan. Kalaupun ada, jaraknya terlalu jauh sehingga mereka tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak,” jelas Yulce.

Oleh karena itu, Yulce berharap, pemerintah tidak diam dan tutup mata, melainkan bergerak cepat untuk selamatkan generasi kita, yaitu anak-anak kita. Jumlah SD di Kabupaten Puncak bisa dihitung dengan jari. “Pemerintah harus memperhatikan hal ini. Yang penting, anak-anak kecil bisa sekolah sehingga nanti mereka bisa melayani masyarakat mereka sendiri,” tegas Yulce.

Yulce Magai S.E mengatakan pelayanan kesehatan di Kabupaten Puncak masih belum memadai. Dia mengakui bahwa edukasi tentang masalah kesehatan sangat dibutuhkan. Sekarang ini, masih kurang tenaga medis di desa-desa karena masih terdapat zona merah (daerah konflik), sehingga pemerintah daerah yang bisa melakukan sosialisasi sebaik mungkin agar anak-anak dapat mengonsumsi makanan sehat dari dinas terkait.

“Tapi hal itu belum sampai di daerah, sehingga saya belum bisa sampaikan disini. Saya rasa pemerintah harus turun lapangan. Mereka harus pastikan di setiap distrik dalam Kabupaten Puncak, bahwa kesehatan dan pendidikan oke. Dua sektor ini sangat penting bagi kami masyarakat Kabupaten Puncak, Papua Tengah,” pungkas anggaota MRP-PPT Perwakilan Kabupaten Puncak,Yulce Magai, S.E. ** (Rika)