![]()
Jakarta – MCN.com – Kasus seleksi Calon Taruna Akademi Kepolisian di Polda Nusa Tenggara Timur dinilai bernuansa korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Kepolisian diminta transparan dan akuntabel. Kapolri didesak copot Kapolda NTT dan melakukan investigasi atas kasus seperti ini yang sudah beberapa kali terjadi di NTT.
Hal ini mengemuka dalam aksi massa Seruan Aksi Aliansi NTT Menggugat, di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (12/7/2024). Mereka menggugat Polda NTT agar tidak merampas hak-hak anak asli NTT dalam seleksi Catar Akpol di Polda NTT.
Aksi massa datangi Mabes Polri dan berorasi dengan orasi-orasi cerdas dan argumentatif, bukan emosional. Aksi berlangsung tertib di bawah jenderal lapangan Manche Kota dan koordinator lapangan Marlin Bato.
Massa menyerukan yel-yel anti KKN. Beberapa seruan yang terpampang, antara lain, “Wahai Pak Kapolda NTT Jangan Rampas Kuota untuk Anak-Anak Kami”, atau “Transformasi Polri Jangan Cuma di Pamflet”.
“Aksi hari ini bukan aksi primordialitas NTT dikenal sebagai Nusa Toleransi. Kami tidak mempersoalkan dari mana asal seorang calon. Yang kami persoalkan adalah soal keadilan, soal kesetaraan, soal hak anak-anak NTT menjadi anggota polisi. Kenapa dari sekian nama Catar Akpol itu hanya ada satu nama asli NTT. Lebih parah lagi, pada 2022, tidak ada satu pun anak asli NTT yang lolos dalam seleksi Catar Akpol NTT. Pada 2023 saat Kapolda NTT dijabat putra NTT, ada 4 anak asli NTT yang lulus. Bagi masyarakat, ini sebuah pertanyaan besar,” ungkap Manche Kota saat beretorika.
Dalam proses perekrutan itu, masyarakat menemukan sejumlah kejanggalan. Dugaan adanya anak pejabat dari Jawa Barat yang menggunakan KTP Kabupaten Manggarai Timur untuk ikut seleksi casis Akpol Polda NTT 2024.
Diketahui pula bahwa anak dari Kapolda NTT masuk melalui pusat, dan ada 4 catar asal NTT (2 putra NTT dan 2 dari luar NTT tetapi kelahiran NTT). Menurut sumber, nama Catar bermarga Manurung merupakan anak Wakajati NTT Johny Manurung, padahal Johny Manurung sudah pindah tugas sejak 2019.
Semua fakta ini mengindikasikan terjadi KKN dalam proses seleksi. Aliansi NTT Menggugat mendesak penjelasan yang jujur dari Polda NTT.
Dalam aksinya, Aliansi NTT Menggugat menuntut 4 hal, pertama, meminta Kapolri mencopot Kapolda NTT karena diduga melakukan tindakan yang bertentangan dengan etika dan kepatutan, bernuansa korupsi, kolusi, nepotisme, dalam proses seleksi Catar Akpol di Polda NTT.
Kedua, meminta Kapolri membatalkan pengumuman hasil seleksi Catat. Ketiga, minta Kapolri menambah kuota casis/catar Akpol Polda NTT tahun 2024; keempat, minta proses perekrutan taruna Akpol memprioritaskan putra asli NTT
Massa Aliansi NTT Menggugat kemudian diterima Kepala Biro Pengkajian Strategis Mabes Polri Brigjen Pol Agoes. Dalam dialog itu, perwakilan Aliansi NTT Menggugat, mengatakan, pada dasarnya masyarakat NTT yang bermata pencarian sebagai petani dan nelayan itu senang bila anak mereka menjadi polisi.
“Mama-mama NTT bangga anaknya jadi polisi. Tapi harapan itu punah karena mereka tak mampu menyediakan uang yang banyak bagi anaknya jadi polisi,” tutur perwakilan Srikandi NTT Lince.
Mereka juga mengungkapkan bahwa masyarakat NTT cinta damai dan penuh toleransi. Namun, masyarakat NTT tak ingin diperlakukan secara tidak adil. Karena ada batasnya orang NTT diperlakukan tak adil.
Bila ketidakadilan itu dirasakan terus, bukan tidak mungkin akan muncul kelompok-kelompok anti negara seperti yang pernah terjadi di Aceh dengan GAM dan Papua dengan OPM.
**(Rika)



More Stories
Raih Juara II Festival Pacu Jalur Nasional 2026, Prajurit Lanal Dumai Kembali Harumkan Nama TNI AL
Semarak Syukuran HUT Ke-40 PPAL Dilaksanakan Serentak Diseluruh Indonesia
Gubernur Sherly Tjoanda Dorong HIKMU Perkuat Ekonomi Warga Maluku Utara di Jabodetabek Lewat UMKM