![]()
Jakarta – MCN.com – Kekuatan budaya masyarakat Kei di Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku, sudah terbukti dalam perjalanan sejarah masyarakat Kei. Nilai-nilai budaya pada masyarakat yang hidup dalam dua puluau besar, yakni Pulau Kei Besar dan Pulau Kei Kecil di bagian tenggara Kepulauan Maluku itu, terpatri kuat dalam diri para penghayatnya, sejak dulu sampai sekarang.
Filosofi “Vuut Ain Mehe Ngivun, Manut Ain Mehe Tilur” yang bermakna orang Kei berasal dari satu keturunan itu, pada gilirannya melahirkan semangat “Ain Ni Ain” (saling memiliki satu sama yang lain; bersaudara).
Dengan semangat “Ain ni Ain” itu, warga Kei di mana saja, memiliki panggilan kultural untuk peduli pada sesamanya. Dengan semangat itu pula, mereka yang berada di perantauan selalu ingat saudaranya yang ada di sekitarnya. Selanjutnya, Ain ni Ain menjadi pendorong untuk melihat kampung halaman, Kepulauan Kei.
Bagaimana membangun kebersamaan itu berlandaskan nilai-nilai budaya Kei yang terpatri pada pasal-pasal Hukum Larvul Ngabal, itulah pertanyaan penting yang terus-menerus dicari jawabannya dalam keseharian hidup orang asli Kei.
Hukum Larvul Ngabal yang sudah ada dan dipraktekkan masyarakat Kei, jauh sebelum terbentuk negara Republik Indonesia ini, mengatur hidup orang Kei sejak seorang bayi masih berada di dalam kandungan, hidup dan berkarya, hingga saat kematiannya. Semuanya terangkum dalam pasal-pasal Hukum Larvul Ngabal.
Hal ini dijelaskan dosen Universitas Negeri Musamus, Merauke, Dr Wellem Levi Betaubun M.Si, di Lapangan Bola, Blok S, Jakarta Selatan, Senin (29/1/2024). Wellem Levi Betaubun hadir di Jakarta dalam rangka mengikuti Pengukuhan dan Pelantikan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Anak Muda Kepulauan Evav (Amkei) Indonesia, di Auditorium BRIN, Jakarta Pusat, Minggu (28/1/2024).
Sebagai Ketua Amkei Provinsi Papua Selatan, Willem datang bersama 15 anggota Amkei Merauke. Para perwakilan Amkei dari seluruh daerah di Papua juga hadir. Dalam acara pelantikan dan pengukuhan pengurus pusat itu, terlihat kehadiran dari perwakilan Amkei dari Sulawesi, Maluku, dan Pulau Jawa. Ini menjelaskan eksistensi Ormas Amkei yang sudah tersebar. Dengan visi baru menuju transformasi dan inovasi, Amkei saat ini fokus pada bidang pendidikan dan pembinaan generasi muda Kei menuju Indonesia Maju.
Paradigma baru ormas Amkei ini ditanggapi positif oleh Dr Wellem Betaubun. “Saya yakin, ke depan Amkei akan menjadi organisasi besar yang mampu merangkul semua warga Kei di perantauan. Intinya, anak-anak Kei butuh wadah untuk mengkader dirinya dengan wawasan komprehensif tentang identitas dan nilai-nilai budaya dari leluhur yang perlu dipertahankan dan dihidupkan terus dalam hidup sehari-hari,” ujar Betaubun, putra asli Kei, yang lahir di tanah Papua.
Kebutuhan akan wadah atau organisasi itu, menurut Betaubun, merupakan sebuah keharusan dalam kehidupan sosial. “Saya bersyukur sekali, Ketum Amkei John Refra, sudah membentuk wadah ini sejak lama dan menjadi wadah pertama yang menghimpun dan merangkul putra-putri Kei di perantauan. Sekarang, tinggal dikembangkan. Dalam pelantikan terlihat jelas struktur organisasi Amkei, dengan bidang-bidang kerjanya. Cukup lengkap. Itu yang akan menggerakkan organisasi nanti,” tutur Dr Wellem Betaubun, M.Si.
Sebagai anak dari generasi perintis yang membawa agama Katolik dan pendidikan di Papua Selatan, Wellem tertantang untuk melanjutkan warisan generasi perintis itu. Generasi perintis yang dimaksudkan Betaubun di sini menunjuk pada para guru dan katekis asal Kei yang telah direkrut Gereja Katolik Keuskupan Amboina dan dikirim ke Papua, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia.
Mereka itu dikirim secara bergelombang dari Kei dan berangkat dengan kapal menuju Papua. Di Papua mereka mencoba membuka diri dan merasul di tengah masyarakat yang masih miskin, sakit, dan belum mengenal baca dan tulis.
Mereka juga memanggil orang-orang Papua untuk membentuk kampung dan hidup dalam kebersamaan sosial. Guru-guru Kei itu tinggal di tengah-tengah kampung dan mulai mengajarkan kebersihan, menjaga kesehatan, memandikan anak secara benar, memasak, menyulam, berdoa, dan beribadah.
Seiring perkembangan zaman, kini sudah banyak kemajuan di tengah masyarakat Papua. Perjumpaan mereka dengan modernisasi membuat kehidupan semakin berkembang dan terbuka terhadap pengaruh dari luar, baik yang positif maupun yang negatif.
Kenangan akan perjuangan generasi perintis itu, Wellem menyadari, anak-anak muda Kei perlu diberi wadah untuk lebih mengekspresikan potensi diri dan semangat “Ain ni Ain” mereka pada sesama, tak terbatas pada sesama suku Kei saja, melainkan untuk semua suku bangsa di Indonesia.
“Saya bangga. Leluhur kami masuk Papua pada 1819. Saya punya refleksi sendiri. Saya melihat, kami orang Kei ini punya potensi besar untuk menjadi teman yang baik dengan teman-teman suku lain di Merauke. Ada karakter orang Kei yang sangat dibutuhkan oleh kebersamaan hidup masyarakat. Ya, benar. Saya merasakan itu. Jadi, saya yakin, dalam diri anak-anak Kei itu ada semangat untuk menjadi sahabat dengan orang lain. Semangat “Ain ni Ain” itu sudah makin berakar dan mengalir dalam diri anak Kei,” kata pria yang sehari-hari bertugas mengajarkan mahasiswa di ruang kuliah itu.
“Kami anak Kei asli yang merespons persatuan anak muda Kei. Anak Kei mampu merangkul teman-teman dari suku lain.bangsa. Ada beberapa anak yang bergabung dengan kami (Amkei Merauke) ikut hadir di acara pelantikan di Jakarta ini. Mereka itu ada yang dari Tepa dan Kisar (Kabupaten Maluku Barat Daya), Batak, Jawa. Mereka bergabung dengan kami karena kami semua ini warga di Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Inilah yang membuat kami termotivasi untuk menghadiri kegiatan Pelantikan dan Pengukuhan Anak Muda Kepulauan Evav (Amkei) Indonesia di BRIN, Jakarta,” ujar Wellem Betaubun.
Saat ini orang Kei di tanah Papua merupakan generasi ke-7. Mereka punya kecintaan melihat Pulau Kei. Kecintaan kepada Kei itu selalu membara di hati. “Tanah Kei membuat kami kuat dan mampu di negeri orang,” ujar Betaubun.
“Kami merasa ada dua hal yang penting, pertama, leluhur kami masuk di Papua pada 18l9. Mereka masuk dengan kekuatan penuh, dengan hati mereka membangun sumber daya manusia di timur Indonesia. Kemudian, kami bangga karena ada keluarga yang membawa nama Kei di pusat perekonomian dan pemerintahan Indonesia di Jakarta, yakni John Refra yang memberi motivasi kepada kami,” kata Betaubun.
Sebagai Ketua Amkei Merauke saya merasa kepercayaan orang kei di Papua Selatan terhadap kami, kemudian kami dan tim datang untuk mengikuti acara tersebut. Saya melihat kekompakan dalam acara Amkei kemarin bikin air mata saya tercurah.
Kehadiran Menpora dan Wakil Menteri Agama, anggota DPR RI, Bupati Maluku Tenggara, dan Walikota Tual, serta kalangan Ormas lainnya adalah ekspresi bahwa Amkei Indonesia dengan visi transformatif-inovatif itu mendapat dukungan dari pemerintah. “Kita berharap, Amkei bisa memberi motivasi bagi kaum muda kei di masa depan sebagai bagian dari bentuk dukungan kepada kemajuan bangsa ini,” pungkas Wellem Levi Betaubun. **{Rika}



More Stories
Kompolnas Resmikan Gedung Baru, Perkuat Pelayanan Pengaduan Publik
Menteri Lingkungan Hidup Berkunjung ke Mapolda Riau, Dorong Replikasi Green Policing Secara Nasional
Buronan Interpol Red Notice Kasus Penipuan Online Internasional Berhasil Ditangkap