![]()
Bekasi – Mediacitranusantara.com -Dualisme kepemimpinan dalam Gerakan Pemuda Pelauw (GNP) yang sempat menimbulkan cekcok dan salah paham akhirnya berakhir dengan damai. Kedua kubu yang terbelah berhasil disatukan oleh Ketua Umum DPP Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM), Haji Umar Kei Ohoitenan, S.H, dalam pertemuan yang digelar di rumahnya di komplek Masjid Ar-Romlah, Binalindung, Bekasi, Selasa (20/1/2026).
Sebagai tokoh muda Maluku yang disegani dan juga anak asal Pelauw, Umar Kei dipercaya kedua kubu untuk menjadi pihak yang mendamaikan. Kedua kubu menyadari bahwa perselisihan tidak sesuai dengan nilai-nilai adat dan persaudaraan yang telah hidup ratusan tahun di masyarakat Pelauw, sebuah desa besar di Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah dengan ikatan kekeluargaan yang kuat.

Dalam pertemuan tersebut, Umar mengajak kedua kubu makan bersama dengan hidangan khas Maluku yang disajikan istri beliau, antara lain ikan bakar, sagu, sinoli, nasi, dan sambal khas Maluku. Menurut keyakinan masyarakat Maluku, makan bersama menjadi simbol awal untuk menciptakan suasana damai yang mengingatkan pada kebersamaan keluarga.
Setelah makan, kedua pihak mengungkapkan pendapat dan alasan masing-masing dalam ruang pertemuan yang dihadiri juga oleh pamannya, Opal Ohoitenan. Umar memberikan nasehat bahwa masalah yang terjadi dapat dijadikan bahan koreksi diri, namun hal terpenting adalah keberanian saling memaafkan. Ia juga mengingatkan pentingnya pengorbanan diri demi kebaikan bersama.
Mendapat siraman nasehat tersebut, kedua kubu sepakat melakukan perdamaian dan akan melanjutkan proses penentuan ketua, sekretaris, penasehat, serta personalia lainnya untuk GNP. Umar bahkan menawarkan untuk mengakomodasi dan membiayai acara pelantikan yang akan datang. Ia juga mengingatkan agar tidak ada pihak yang memprovokasi untuk memperkeruh situasi yang sudah damai.
Sebelumnya, Umar juga pernah menginisiasi rekonsiliasi para pemuda Kei, Jailolo, dan Seram Bagian Timur (SBT) yang bertikai di Ambon, dengan menanggung biaya seluruh kegiatan dan memberikan santunan kepada korban konflik. Tindakan beliau menjadi bentuk partisipasi dalam membantu pemerintah daerah dan TNI-Polri menjaga kamtibmas, yang terinspirasi oleh nasehat almarhumah ibunya, Hajah Ar-Romlah. **(Rika)



More Stories
28 Tahun Reformasi 1998: Demokrasi Tumbuh, Oligarki Menguat, Keadilan Sosial Masih Diperebutkan
Sikap dan Pernyataan Ketua Umum FPMM Umar Kei Terhadap Peristiwa di Maluku Tenggara
LMP dan M1R Kecam Dugaan Penghinaan Profesi Serta Rasisme Oleh Oknum Manajer Kursus Bahasa Inggris di Kelapa Gading