Mei 27, 2026

Ketua Umum FPMM Umar Kei Ohoitenan Gandeng Tokoh Muda dan Adat, Rekonsiliasi Kailolo-Kei-SBT Berlandaskan Iman dan Adat

Spread the love

Loading

Maluku – Mediacitranusantara.com – Tokoh muda nasional asal Indonesia Timur sekaligus Ketua Umum DPP Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM) Haji Umar Kei Ohoitenan, S.H., menginisiasi rekonsiliasi kelompok pemuda Kailolo, Kei, dan Seram Bagian Timur (SBT) yang sebelumnya bertikai. Dialog bertajuk “Duduk Bacarita Meretas Jalan Menuju Perdamaian” dihadiri sejumlah tokoh pemuda, tokoh agama, Raja Negeri Kailolo, serta beberapa raja dari Kei dan SBT.

Kegiatan Berlangsung Dua Hari di Ambon dan Desa Kailolo Rekonsiliasi dan dialog pertama berlangsung pada Jumat (16/1/2025) di Hotel Premier Ambon, sedangkan pertemuan kedua dilaksanakan pada Sabtu (17/1/2026) di Desa Kailolo, Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah.

Sejarah dan Nilai Adat Jadi Fondasi Perdamaian Raja Faan Patris Renwarin menekankan bahwa Kei, Kailolo, dan SBT memiliki riwayat sejarah yang saling berkaitan. “Mari kita tunjukkan hidup orang basudara dalam perilaku kita. Itu warisan leluhur kita yang patut kita jaga dan wariskan kepada keturunan kita,” ujarnya.

Raja Kailolo Haji M. Ali Ohorela mengajak pemuda untuk menjaga tali silaturahmi demi membangun Maluku. Sementara Umar Kei menegaskan, “Rekonsiliasi yang lahir dari adat dan hubungan kekeluargaan merupakan dasar kuat dalam menjaga perdamaian. Ini warisan yang harus kita jaga.”

Dalam pertemuan pertama, lahirlah 9 pokok ikrar yang dibacakan oleh Raja Negeri Urun (SBT) dan ditandatangani seluruh perwakilan. Poin pertama menyatakan, “Kita menegaskan bahwa kita semua adalah orang basudara, satu gandong, satu rasa, terikat dalam hidup orang Maluku, saling hormat-menghormati dan sayang-menyayangi.” Acara ditutup dengan salaman berangkulan dan penyampaian lagu “Gandong” oleh penyanyi Chaken Supusepa.

Kailolo Sebagai Titik Temu Ikatan Kekeluargaan Pada pertemuan kedua di Negeri Kailolo, Umar Kei menjelaskan bahwa wilayah ini memiliki posisi penting dalam sejarah persaudaraan orang Maluku dan menjadi titik temu yang menentukan ikatan kekeluargaan lintas pulau dan wilayah. “Ketika hati dan perasaan kita menyatu sebagai saudara, perbedaan apa pun dapat diselesaikan. Nilai adat orang Maluku adalah duduk bersama, makan bersama, lalu saling menjaga,” tuturnya.

Kampanye Perdamaian dan Kepedulian Sosial Umar Kei telah lama membangun persaudaraan dan persatuan anak-anak Maluku lintas agama dan suku melalui FPMM di Jabodetabek dan beberapa provinsi lainnya. Lewat berbagai program, ia mengkampanyekan perdamaian dan kepedulian sosial, terutama terhadap kaum kecil. Ia juga membangun kerjasama dengan pemerintah, TNI, Polri, dan pihak terkait lainnya.

Kepeduliannya berakar pada iman Islam yang kuat dan nasehat ibunda Hajah Ar-Romlah. Kepada kaum muda Maluku, ia selalu berpesan agar rajin bekerja, tidak melupakan Tuhan, dan rela berkorban. “Harta itu mudah dicari, tapi carilah sesama untuk menjadi teman. Tuhan akan membantu,” pesannya.

Pada kesempatan rekonsiliasi ini, para korban pertikaian juga diberi santunan oleh Umar Kei.  **(RN)