![]()
Maluku – MCN.com – Provinsi Maluku, yang kaya akan sumber daya alam (SDA), tengah menghadapi tantangan krusial dalam sejarahnya: bagaimana mewujudkan keadilan dan memberdayakan generasi muda serta Generasi Z? Fredi Moses Ulemlem, seorang pemerhati dan pengamat sosial, menyoroti bahwa meskipun Maluku memiliki potensi besar, kemiskinan dan pengangguran masih menjadi masalah utama.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku pada Februari 2024 menunjukkan bahwa dari 1.443.383 penduduk usia 15-64 tahun, hanya 892.547 yang bekerja, dengan angka pengangguran terbuka mencapai 56.537 orang. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mendominasi lapangan kerja, dengan perikanan sebagai kontributor utama ekonomi.
Ulemlem menekankan perlunya Pemerintah Daerah Maluku melibatkan anak muda (16-30 tahun) dan Generasi Z (kelahiran 1997-2012) dalam pembangunan daerah. “Pemerintah Provinsi Maluku tidak bisa berjalan sendiri. Perhatian dari para kepala daerah di 11 kabupaten kota di Maluku sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Pemuda dan Generasi Z Maluku memegang peran strategis sebagai agen perubahan dan penggerak pembangunan. Ulemlem menyoroti bahwa meskipun Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 mendefinisikan pemuda berusia 16-30 tahun, kontribusi generasi saat ini masih didominasi oleh mereka yang berusia di atas 30 tahun. Oleh karena itu, revisi Undang-Undang Kepemudaan diperlukan agar selaras dengan realitas demografi dan aspirasi generasi.
“Daerah menghadapi tantangan serius seperti kurangnya akses pendidikan dan pelatihan, serta minimnya kesempatan kerja. Namun, ada peluang besar untuk meningkatkan ekonomi melalui sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata,” kata Ulemlem.
Generasi Z Maluku memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan melalui pemanfaatan teknologi dan media sosial dalam meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Ulemlem menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Maluku harus memprioritaskan pemberdayaan pemuda dan Generasi Z, selain pembangunan infrastruktur. Pemberdayaan ini dapat dilakukan melalui program pelatihan keterampilan, pendidikan kewirausahaan, dan pengembangan kepemimpinan.
Dengan memberikan kesempatan kepada pemuda dan Generasi Z untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan program pembangunan, mereka akan merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap pembangunan daerah. Ini akan membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat Maluku, termasuk akses ke pendidikan, kesehatan, dan kesempatan kerja, sehingga Maluku dapat menjadi lebih maju dan sejahtera.
Namun, tantangan yang dihadapi Pemprov Maluku tidaklah kecil. Ulemlem menekankan pentingnya kepemimpinan yang kuat untuk menarik investor dan partisipasi. “Kerja-kerja inovatif dengan berpikir terbuka dan kreatif harus dimainkan. Pemimpin harus membuka diri dan melihat semua pihak sebagai aset yang bisa diajak kerja sama,” katanya.
Ulemlem juga mengingatkan agar pola pikir “one man show” ditinggalkan. “Kemajuan teknologi sangat membantu kita untuk lebih maju, tergantung kesadaran kita. Sumber Daya Alam yang melimpah tak ada guna bila kita masih berpikir seperti katak dalam tempurung,” pungkas Ulemlem. **(Rika)



More Stories
Ratusan Massa GSPMII Menuju Monas, Pengamanan Humanis Polisi Jaga Situasi Kondusif
Wujud Sinergi Nyata, Dandenpom Lanal Bintan Hadiri Peringatan May Day 2026 di Tanjungpinang
Elemen Buruh dan Pemuda Gelar Aksi May Day di DPR/MPR, Polisi Pastikan Keamanan Terjaga