Maret 5, 2026

Memperingati Peristiwa Heroik 14 Februari 1946, Waketum DPP GPPMP Donald Pokatong: Peristiwa Ini Harus Ditulis Dalam Buku Sejarah Indonesia

Spread the love

Loading

Jakarta – MCN.com – Peristiwa sejarah heroik diukir masyarakat Manado, Sulawesi Utara, saat merebut kembali tangsi militer Belanda di Teling, Kota Manado, demi mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamirkan oleh Sukarno dan Hatta, setahun sebelumnya.

Pada 14 Februari 1946 sejumlah tentara KNIL pribumi Manado merebut markas militer Belanda itu dan segera menancapkan bendera Merah Putih. Aksi kepahlawanan masyarakat Sulawesi Utara tersebut membuktikan rasa cinta mereka kepada Indonesia, negara yang baru berdiri setahun.

Semangat membela bangsa dan negara inilah yang dikenal setiap 14 Februari oleh masyarakat Sulawesi Utara. Peristiwa itu kini lebih dikenal sebagai Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946.

Peringatan Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946, yang pada tahun ini (2025) genap 79 tahun, dilakukan sejumlah organisasi masyarakat Sulawesi Utara di Jakarta, terutama oleh DPP Gerakan Penerus Perjuangan Merah Putih 14 Februari 1946 (GPPMP) dalam bentuk apel dan ziarah ke Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta Selatan.

Upacara dipimpin Laksda TNI Dr Samuel H. Kowaas, Sestama Bakamla RI. Hadir dalam kegiatan ini Ketua DPP GPPMP Jeffry Rawis, mantan Gubernur Sulut E.E Mangindaan, Dr Theo L Sambuaga, Dr Tilly Kasenda, Ketua Umum DPP KKK Angelica Tengker, Brigjen TNI Douglas Umboh, Dr Jan Maringka, Dr Frans Memahami dan sejumlah perwakilan dari paguyuban orang Sulawesi Utara seperti Brigade Manguni Indonesia dan Laskar Manguni.

Usai upacara, peziarah menuju pusara para pahlawan dan menaburkan bunga disertai doa keselamatan jiwa mereka.

Ditemui usai ziarah, Wakil Ketua Umum DPP GPPMP Donald Pokatong, mengatakan, setiap tahun, tepatnya pada 14 Februari, GPPMP memperingati peristiwa bersejarah itu dengan berziarah ke Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta Selatan.

“Peristiwa 14 Februari 1946 itu merupakan peristiwa kudeta pertama bangsa Indonesia terhadap pemerintah Belanda. Kita ada perang kemerdekaan, tapi Belanda datang berkuasa lagi. Saat itu pejuang bangsa Indonesia dari Sulawesi Utara melakukan kudeta terhadap Belanda, baik sipil maupun militer, di Manado,” tutur Donald.

Donal melanjutkan, kini kita abadikan peristiwa itu dengan mengenang perjuangan mereka semua. Secara khusus melestarikan nilai-nilai perjuangan mereka dalam bentuk organisasi GPPMP ini.

“Semangat para pejuang Sulawesi Utara itu harus kita kenang dan kita lestarikan, yaitu semangat berkorban demi kepentingan bangsa dan kebenaran akan kemanusiaan,” papar Waketum DPP GPPMP itu.

Donald sepakat generasi muda perlu mengetahui peristiwa sejarah tersebut. Maka penting dilakukan sosialisasi terus menerus kepada generasi muda Sulawesi Utara dan generasi muda Indonesia pentingnya belajar dari sejarah dan pengorbanan para pejuang.

Donald menyayangkan, bahwa dalam penulis buku sejarah yang dipelajari para pelajar di sekolah, peristiwa 14 Februari 1946 kurang diulas secara detail. Donald mengingatkan, saat itu Belanda mengatakan Indonesia tidak ada. Buktinya tak ada perlawanan di luar Pulau Jawa.

Karena itu, Donald mengatakan peristiwa 14 Februari 1946 itu harus ditulis agar masyarakat Indonesia tahu bahwa masyarakat Sulawesi Utara sejak awal setiap pada NKRI.** (Rika)