Juli 1, 2026

Forum Pemuda NTT Menggugat: Stop Jadikan NTT “Numpang Titip Taruna”

Spread the love

Loading

Jakarta – MCN.com – Polemik perekrutan anggota Akpol asal NTT yang mayoritas bukan anak asli NTT semakin bergema di kalangan warga NTT dan Indonesia Timur pada umumnya. Rasa keadilan itu mencuat ketika NTT dijadikan tempat “Numpang Titip Taruna”.

Proses seleksi calon taruna Akademi Kepolisian (Akpol) di NTT untuk mengisi 11 kuota yang ditentukan oleh Markas Besar (Mabes) Polri, ternyata hanya meloloskan 1 putra asli NTT, sementara 4 dari 11 yang lulus dikatakan masih satu suku dengan Kapolda NTT Irjen Pol Daniel Silitonga.

Kapolda Daniel Silitonga menjelaskan, bahwa yang lulus seleksi terdiri dari 1 putra asli NTT, 5 orang putra daerah yang lahir dan besar di NTT, dan 5 orang pendatang yang sudah menetap di NTT.

Daniel mengatakan hasil seleksi itu sudah melalui prosedur yang ketat dan diawasi panitia. Hasil itu tak bisa lagi diubah.

Hanya saja publik NTT mempertanyakan mengapa 4 peserta yang lolos itu berasal dari kampung yang sama dengan Daniel. Aroma perampasan hak anak asli NTT dan nepotisme pun tak terhindarkan.

Seleksi Akpol di daerah sebenarnya dimaksudkan agar ada anak asli daerah tersebut dalam institusi kepolisian. Untuk apa mengadakan seleksi di daerah kalau yang direkrut bukan putra asli.

Pertanyaan itu mengemuka dalam Konsolidasi Rencana Aksi Protes Terkait Kelulusan 11 Orang Catar Bukan Asli NTT, di Kantor Penghubung NTT, Tebet, Jakarta Selatan, Senin (8/7/2024). Hajatan ini digelar Forum Pemuda NTT dan Aliansi NTT Menggugat. Konferensi pers dan konsolidasi itu dihadiri tokoh-tokoh NTT yang ada di Jabodetabek dan beberapa forum anak muda NTT, seperti Flobamora, Lembata, dan lainnya.

Mempertanyakan hasil seleksi calon taruna Akpol NTT, yang hanya meloloskan satu putra asli NTT, Aliansi NTT Menggugat merasa prihatin dengan kejadian itu.

“Kami prihatin dan kecewa. Ini bentuk penzaliman terhadap anak asli NTT. Karena itu kami akan menyurati Kapolri dan melakukan aksi di Jakarta dan NTT. Kepolisian harus bisa lebih bersikap obyektif dalam seleksi Akpol di NTT. Selama ini, ketika kapolda asli NTT, maka kuota untuk anak asli NTT maksimal. Ketika kapolda NTT bukan orang NTT, maka orang NTT calon taruna Akpol seperti dikesampingkan,” tegas Koordinator Aliansi NTT Menggugat, Emanuel, di Jakarta, Senin (8/7/2024).

Keinginan kanak-anak daerah untuk menjadi anggota polisi cukup tinggi. Hal itu terlihat dalam keikutsertaan mereka dalam seleksi Akpol. Orang Tua dan keluarga pun terlibat mendukung mereka meniti profesi di kepolisian demi melayani masyarakat.

Pemuda NTT minta agar Kapolri Sigit melakukan evaluasi total di NTT. Tak bisa dimungkiri, indikasi nepotisme amat kental dalam kejadian itu. “Kita bisa lihat di nama-nama mereka yang lulus seleksi itu. Tentu kita tidak bisa batalkan keputusan itu. Karena itu, kami minta Kapolri untuk menambah kuota Akpol bagi anak-anak NTT,” ujar Emanuel.

Forum Pemuda NTT juga meminta Kapolda NTT mundur dari jabatannya dan mendesak agar hasil seleksi calon taruna Akpol NTT itu dibuka kepada publik untuk membuktikan sejauh mana proses seleksi itu transparan dan akuntabel.

Silvester mengatakan, keterbukaan dan transparansi itu bukan saja pada calon taruna Akpol, tetapi juga pada Akmil, IPDN, dan lainnya, dan berharap anak-anak NTT dilibatkan untuk membangun bangsa. Mereka jangan dipinggirkan atau dihilangkan sama sekali. Hak-hak anak anak NTT itu juga angan diambil orang lain.

“Apa yang terjadi saat ini merupakan bentuk ketidakadilan. Kita harus bersikap, tidak boleh diam. Paling tidak, kita minta kuota dari Kapolri dan Mabes Polri. Bahwa ini kenapa hanya 1 orang asli NTT yang lolos,” tambahnya.

Ketua IKB Lembatas Polce mendesak agar “sistem jatah” pejabat dalam sistem seleksi dan perekrutan anggota Akpol dihentikan, karena memperlihatkan sistem nepotisme dan kronisme dalam institusi negara.

“Kita minta untuk dihapuskan “sistem titipan” dari petinggi Polri seperti Kapolda dan sebagainya. Sistem jatah pejabat ini yang ikut bikin kacau. Harus dihapuskan, agar setiap warga negara memiliki hak yang sama,” tuturnya.

Tokoh NTT yang lain, Mance, mengatakan ada kewajiban moral dari anak-anak NTT untuk memperjuangkan kemajuan NTT, termasuk bersikap kritis terhadap pihak-pihak yang tak bersikap adil di NTT.

Komunitas Diaspora NTT di luar NTT menyadari perlunya persatuan di antara mereka, membangun persaudaraan dan terus memperlihatkan sikap peduli pada NTT. “Bae, sonde bae, NTT lebe bae”.

** (Rika)