Agustus 19, 2026

Prof Rhenald Kasali Minta Pengusaha Berani Ambil Risiko Demi Selamatkan Perusahaan

Spread the love

Loading

Jakarta – Mediacitranusantara.com -Profesor Rhenald Kasali, Ph.D menghadiri sidang kasus dugaan korupsi tata kelola Pertamina di Pengadilan Tipikor Jakarta pada Rabu (4/2/2026) sebagai saksi ahli bidang bisnis dan ekonomi. Selain dirinya, tim hukum para terdakwa Muhammad Kerry Andrianto Riza, Gading Ramadhan Joedo, dan Dimas Werhaspati juga menghadirkan saksi ahli lain yaitu Renato Sitompul (Ahli Keuangan Forensik), Dr Muhammad Maksun (Ahli Akuntansi Forensik), dan Dr Dian Puji (Ahli Hukum Keuangan Negara).

Kuasa hukum Didi Supriyanto, S.H, M.H mengangkat isu pentingnya ketahanan energi nasional yang dapat dijangkau masyarakat dengan harga terjangkau, namun Pertamina masih banyak menyewa infrastruktur atau bekerja sama dengan swasta.

Menanggapi hal ini, Rhenald menyatakan bahwa kecenderungan BUMN saat ini untuk mengerjakan segala hal sendiri bertentangan dengan prinsip agent of development. Sebagai power house, BUMN seharusnya dapat menghidupkan sektor lain dengan menggunakan modal secara efisien untuk kegiatan yang lebih produktif. Kolaborasi dengan swasta dianggap bermanfaat karena dapat melibatkan lebih banyak pihak dan meningkatkan efisiensi, mengingat swasta cenderung mengambil keputusan cepat dan memiliki kredibilitas baik di sektor keuangan serta dapat memperoleh sumber daya dengan harga lebih murah. Menurutnya, pemerintah perlahan harus mengurangi peranannya dan melibatkan lebih banyak masyarakat, mengingat sejak 15 tahun lalu telah ditegaskan pentingnya creative finance dengan membuka kesempatan bagi pihak swasta.

Didi juga menanyakan apakah wajar perusahaan membeli komoditas dengan harga berbeda, seperti pembayaran dua tahun kemudian untuk konsumen A dan pembayaran di muka untuk konsumen B yang belum menerima barang.

Rhenald menjelaskan bahwa praktik penjualan dengan harga berbeda masih umum terjadi. Ia mengisahkan pengalamannya saat di kementerian, di mana tiket luar negeri yang dibeli kementerian mencapai Rp 100 juta, sedangkan bila dibeli secara pribadi hanya Rp 50 juta. Hal ini disebabkan karena pembayaran kementerian dilakukan secara tertunda, sehingga pihak penjual menetapkan harga lebih tinggi sebagai imbalan atas risiko penundaan pembayaran. Praktik semacam ini terkadang membuat perusahaan mengalami kesulitan keuangan, namun terkadang pemerintah terpaksa menerima kondisi tersebut. Ia menekankan bahwa cash flow adalah “darah” dalam bisnis, sehingga terkadang perusahaan perlu menerima pembayaran di muka meskipun dengan margin yang lebih kecil, atau menerima harga lebih tinggi untuk pembayaran tertunda.

Menanggapi pertanyaan tentang manfaat market share, Rhenald menyebutkan tiga keuntungan utama:

1. Efisiensi volume: Dengan volume penjualan besar, perusahaan dapat mencapai efisiensi dan tetap memperoleh keuntungan.
2. Kelangsungan organisasi: Semua karyawan dapat tetap bekerja, sehingga perusahaan dapat diselamatkan secara menyeluruh.
3. Kepercayaan pasar: Penguasaan pasar yang besar mencerminkan kepercayaan pasar terhadap perusahaan, yang berdampak positif dalam jangka panjang.

Rhenald menjelaskan bahwa ada tiga elemen utama dalam menentukan harga produk:

1. Biaya (Cost): Termasuk biaya tetap, variabel, dan operasional yang harus diperhitungkan secara menyeluruh.
2. Kompetisi: Perusahaan harus mengetahui jumlah pesaing, jenis produk, dan layanan yang ditawarkan oleh kompetitor.
3. Strategi: Menentukan bagaimana memenangkan pasar di suatu daerah meskipun margin keuntungan sangat kecil.

Ia menegaskan bahwa manajer harus menyelamatkan perusahaan dengan kecerdasan yang memadai, dan pasar pada dasarnya adalah tentang kepercayaan dalam jangka panjang sehingga perlu membangun brand dan hubungan baik dengan pelanggan. Karena harga cenderung berfluktuasi, perusahaan harus mengikuti kondisi pasar agar produk tetap terjual.

Menurut Rhenald, pengusaha harus siap menanggung risiko. Bila harga turun, mereka harus menyesuaikan diri dengan cepat meskipun harus mengalami kerugian, karena pebisnis harus melihat keseluruhan kondisi bukan hanya satu titik. Untuk mengurangi risiko, perusahaan dapat melakukan langkah pencegahan atau membuat kontrak jangka panjang, meskipun harga di pasar tetap dapat berubah secara tidak terduga. **(RN)