Juni 28, 2026

Tokoh Papua Selatan Hendrikus Geb Dukung Calon Bupati Merauke Andreas Parapaga Laiyanan

Spread the love

Loading

Jakarta – MCN.com – Kontestasi politik di Pilkada 2024 Kabupaten Merauke, Papua Selatan, kini memasuki tahap penentuan penting. Beberapa calon mendapat dukungan parpol.

Selain sosok, kinerja dan integritas menjadi faktor penting untuk memimpin wilayah yang luas seperti Kabupaten Merauke, di selatan Papua.

Tokoh Papua Selatan, yang juga merupakan tokoh masyarakat Suku Marind-Anim Hendrikus Geb, mengatakan, pemimpin ideal di Kabupaten Merauke haruslah orang yang jujur dan benar, kapabel secara rasionalitas dan memiliki integritas kepribadian bagi masyarakat Merauke, Papua, dan bangsa Indonesia.

“Seorang pemimpin politik tanpa kejujuran tak punya martabat. Tanpa moralitas, maka kepemimpinannya akan menjadi bencana bagi masyarakat, karena dia akan menghina masyarakat dengan sikap-sikap koruptifnya sendiri. Jadi, calon pemimpin di Merauke harus orang jujur dan orang benar,” kata Hendrikus kepada awak media di Jakarta, Senin (5/8/2024).

Ketika politik kian dikuasai oleh perhitungan koalisi parpol, Hendrikus mengatakan masyarakat tidak boleh lupa pada kualitas diri calon pemimpin tersebut. Indonesia sedang krisis kepemimpinan seperti itu, walau di permukaan terlihat demokrasi berjalan mulus, padahal sedang terjadi krisis moral pemimpin yang dipilih rakyat.

Hendrikus menekankan penting dan mendesak sikap jujur dan benar dari seorang calon bupati Merauke. Dengan kata lain, masyarakat akan berubah dan berkembang kalau pemimpinnya jujur dan berani. Sayangnya, selama ini perhatian terlalu dilebih-lebihkan pada sosok seorang calon pemimpin dan bukan pada sifat kepribadiannya.

Di mata tokoh Papua Selatan Hendrikus Geb, sosok Ketua Umum Timur Indonesia Bersatu (TIB) Andreas Parapaga Laiyanan masuk dalam kriteria itu. “Andreas adalah sosok muda yang jujur, berwawasan luas, memiliki jaringan, konsisten pada visi kemanusiaan, dan sejak lama rindu melihat Merauke yang maju. Andreas punya visi yang sangat dalam bagaimana adat dan budaya Merauke harus diangkat ke permukaan hidup masyarakat di Kabupaten Merauke,” tutur tokoh suku Marind-Anim yang dihormati itu.

Beberapa dekade terakhir, masyarakat Marind-Anim di Kabupaten Merauke dengan adat dan budayanya kurang diperhatikan secara serius. Akibatnya, hak dan kehidupan mereka kurang diperhatikan. Beberapa konflik mencuat di permukaan, yang sesungguhnya berakar pada rasa kehilangan identitas diri mereka.

Bila semua itu direfleksikan kembali, menurut Hendrikus Geb kita harus memberi perhatian lebih pada adat dan budayanya saat pembangunan ekonomi terus berlangsung dan teknologi digital sedang memerangkap gaya hidup masyarakat Papua.

“Masyarakat Kabupaten Merauke sedang mencari pemimpin yang jujur. Dalam budaya Suku Marind-Anim, semua orang dipandang berharga dan menjadi sesama. Karena itu, orang Marind-Anim tidak membeda-bedakan manusia. Kalau begitu, untuk menjadi bupati Merauke setiap warga negara bisa dipilih karena dia memiliki hak sebagai warga negara RI. Tidak ada aturan baku bahwa bupati harus dari suku mana,” ujarnya.

Hendrikus kemudian bercerita, saat dirinya masih kecil di Pulau Kimaam, dia sudah mengenal kakek dari Andreas, yaitu kakek Laiyanan. Sang kakek merupakan “Generasi Perintis” yang menyebarkan agama Katolik di Papua Selatan, dengan menjadi katekis, guru, sekaligus sebagai tenaga kesehatan yang mengobati masyarakat kampung. Mereka juga yang membantu para misionaris Gereja Katolik untuk membangun sekolah dan balai kesehatan untuk masyarakat.

“Kakek Hilarius Laiyanan itu juga seorang yang suka akan seni. Anak-anak dan cucu-cucunya lahir di Kimaam. Tali puser mereka ada di Tanah Kimaam dan Merauke. Jadi, mereka merupakan keluarga Perintis penyebaran agama Katolik, peletak pendidikan dan kesehatan dasar di Papua Selatan. Andreas Parapaga Laiyanan adalah cucu sang kakek, yang berjasa besar membangun pendidikan, kesehatan, dan kehidupan iman Kristiani di Papua Selatan,” ujarnya. Bila ditarik jauh ke belakang lagi, maka oyang dari Andreas bernama Philipus Ulukyanan, asal Hollat, Kei Besar, yang tiba di Merauke pada 1890.

Orang Kimaam, ketika mendengar marga Laiyanan pasti tahu anak-cucu guru Perintis agama Katolik di Kimaam. “Saya sudah katakan, ada dukung Andreas dan saya ada di depan dia. Saya memperkenalkan dia di kalangan masyarakat Bugis, Makassar, Jawa, Sulawesi, Maluku, dan pelbagai suku lain yang ada di Merauke.

“Saya ingat saat Andreas mempertemukan saya dengan Presiden Joko Widodo. Saya bilang kepada Bapak Presiden bahwa orang Papua Selatan butuh provinsi. Tiga bulan kemudian, di Jakarta terbentuk pansus untuk pembentukan provinsi baru di Papua. Sekarang sudah terwujud Provinsi Papua Selatan,” ujar Hendrikus.

Hendrikus yakin sosok Andreas cocok untuk memimpin Kabupaten Merauke. Dengan figur pimpinan yang jujur, baik hati, konsisten pada visi kemanusiaan, masyarakat Kabupaten Merauke akan lebih maju. Andreas memiliki visi yang mendalam tentang pendidikan, kesehatan, budaya, dan ekonomi di Merauke.

Dari segi pendidikan, Merauke memiliki potensi pendidikan yang besar. Bila kebijakan makan siang gratis untuk anak sekolah dan ibu hamil dapat direalisasikan, Andreas yakin perlahan-lahan SDM Kabupaten Merauke juga kian terangkat. Demikian halnya untuk kesehatan, sosial budaya, dan ekonomi, pasti terdongkrak ke atas.

Sebagai Ketua Umum Timur Indonesia Bersatu, Andreas sudah dikenal luas masyarakat Indonesia bagian timur. Andreas yang tenang dan suka mendengar aspirasi orang lain, mengatakan siap mempersembahkan hidupnya untuk diabdikan kepada masyarakat Kabupaten Merauke, Papua Selatan.

Sejak awal Andreas sudah didukung Partai Solidaritas Indonesia, parpol dengan Ketum Kaesang Pangarep. Jalan menuju Merauke terbuka lebar. Pilkada serentak sudah tak lama lagi, 27 November 2024. Dan, masyarakat merindukan pemimpin yang jujur, yang benar, dan rela bekerja keras untuk mereka. **(Rika)