![]()
Jakarta – MCN.com – Virgo Warouw terlahir dengan nama Heince Sonny Warouw. Nama Virgo terukir indah dalam panggung sejarah tinju Tanah Air. Dilatih sang ayah sejak dia SD dan SMP. Saat duduk di kelas 1 SMA Negeri 2 Tondano dia sudah gondol perunggu saat mengikuti Piala Walikota Ujung Pandang Cup. Sejak itu jotosannya ditakuti lawan.
Betapa tidak, setumpuk medali pernah ia raih selama berkecimpung di dunia tinju. Petinju dengan gaya Orthodox ini memiliki jenjang karier yang bagus, yang dirintis sejak remaja. Kemenangan demi kemenangan ia gapai berkat latihan keras dan ketat serta berdisiplin.
Tak sedikit lawannya sudah merasakan kerasnya bogem putra Tondano ini. Pukulan yang keras dan akurasi bidikan yang tepat membuat lawan-lawannya sempoyongan tak berdaya. Dia pun meraih juara nasional pada kelas bulu junior selama 3 tahun lebih. Ini terbilang lama seorang petinju bertakhta di singgasananya.
Di tahun 1999, nama Virgo Warouw sedang berkibar sebagai juara bertahan kelas bulu junior, sementara Chris John menguasai kelas bulu. Melihat dua jagoan nasional merajai ring tinju amatir nasional, promotor dan beberapa pihak terpikat mempertemukan keduanya, menguji siapakah yang terbaik, dalam Acara Bintang-Bintang di RCTI.
Itulah saat pertama kalinya Virgo Warouw terjun ke tinju profesional. Pertemuan dua jagoan nasional pada 19 November 1999 itu berakhir dengan kemenangan Chris John. Virgo tak kecewa. Dia sadar, dalam dunia tinju, kalah dan menang adalah hal biasa. Dia tetap petik pelajaran berharga dari situ.
Dengan segudang pengalaman di amatir dia tetap melangkah. Lawan-lawannya tak hanya dari dalam negeri. Dia juga menjajal laga internasional sampai ke Jepang. Setiap pertandingan memiliki pelajaran penting. Virgo pertama kali ke Jepang dalam kejuaraan Asia-Pasifik. Namun, di bertanding ke Jepang sampai 6 kali. Dengan nada senda gurau, Virgo bilang publik Jepang mengira dirinya berasal dari Jepang dan mengira petinju Jepang lawannya itu dari Indonesia.
Sebagai petinju profesional, Virgo belajar bahwa sebuah kemenangan sudah dimulai saat seorang petinju mempersiapkan diri sejak awal, baik dengan latihan keras, mendengar arahan pelatih, dan disiplin hidup serta memperbesar rasa percaya diri dan motivasi.
Putra Tondano, Manado, Sulawesi Utara, ini sudah tertarik pada tinju sejak kecil, apalagi dilatih sang ayah. Di masa itu, dunia tinju Indonesia cukup membanggakan. Turnamen-turnamen tinju digelar di mana-mana, baik kejuaraan tingkat nasional maupun daerah.
Seperti kebanyakan remaja Manado umumnya, Virgo kian terpikat pada tinju. Tekad yang kuat itu terbukti saat dia duduk di bangku kelas 1 SMA di Tondano. Saat itu ada kejuaraan untuk petinju junior Walikota Cup di Ujung Pandang. Virgo mendaftarkan diri dan siap ke Ujung Pandang (Makassar). Sayang, saat meminta izin kepala sekolah untuk mengikuti turnamen itu, sang kepsek tak mengizinkan, sebaliknya meminta Virgo untuk memilih: tinju atau sekolah.
Dia disuruh pulang dan memikirkan keputusannya. Besok hari dia menghadap kepsek dan mengatakan lebih memilih tinju. Dia pun terbang ke Makassar. Di kejuaraan itu dia meraih juara ke-3. Balik ke Tondano Virgo menghadap kepala sekolah dengan memperlihatkan perunggu sebagai bukti dirinya mampu berprestasi dia olahraga adu jotos itu.
Memasuki kelas 2 SMA, Virgo hijrah ke Jakarta Timur dan mewakili DKI Jakarta dalam kejuaraan tinju junior. Di situ dia meraih juara 2. Setelah lulus SMA pada 1995, Virgo tinggal di Tangerang dan mengikuti Porda Jawa Barat.
Sejak 1995-1999 dia masih di amatir dan menjadi juara nasional setelah mengalahkan juara bertahan Herry Makawimbang dalam pertandingan mandatory fight. Setelah itu, dia dipertemukan dengan Chris John.
“Kami dua diadu dalam Acara Bintang-Bintang. Pertemuan itu sebenarnya ditolak oleh Ketua KONI Wismoyo Arismunandar. Menurutnya, saya dan Chris John tak boleh dipertemukan karena kami berdua adalah aset tinju nasional yang bisa lebih mengukir prestasi lagi bila tetap berada di kelas masing-masing. Akhirnya salah satu dari kami harus gugur. Padahal saat itu saya dan Chris belum pernah dikalahkan lawan-lawan sehingga kami tetap juara di kelas masing-masing. Tapi, itulah hidup. Hidup itu pilihan,” tutur Virgo.
Setelah itu, Virgo bertanding ke Jepang dalam kejuaraan Asia-Pasifik pada 2003. Bahkan dia bertanding di Jepang sebanyak 6 kali. Lewat tinju, Virgo bangga bisa ikut mengangkat nama Indonesia dan Daerah. Tinju mengajarnya banyak hal, baik keberanian, disiplin, maupun sportivitas. Dia atas ring, lawan harus dikalahkan, tetapi di luar ring lawan adalah kawan. Dengan banyak berkawan, Virgo kini merasakan bersyukur atas jalan hidupnya. Sampai 2007 Virgo masih bertinju, bahkan ia ikut PON 2008 di Kalimantan.
“Saya juara nasional itu di badan tinju versi Komisi Tinju Indonesia (KTI). Di situ kompetitif sekali. Yang juara di KTI itu memang petinju-petinju yang sudah teruji,” jelas Virgo.
Sejak 1995 sampai sekarang dia menetap di Tangerang dan beralih profesi sebagai ASN di Dinas Perhubungan Kota Tangerang, setelah 11 tahun sebagai tenaga honorer di Dishub.
Saat ini Virgo melihat dunia tinju nasional agak menurun. “Dulu, kita bisa pantau siapa petinju-petinju terbaik kita karena tiap Minggu ada pertandingan. Sekarang, jarang ada pertandingan sehingga kita sulit menilai. Namun saya yakin bibit-bibit petinju muda kita akan lahir seiring dengan turnamen yang digelar,” ujar Virgo Warouw. ** { Rika }



More Stories
Putusan Adat, Lenis Kogoya Tegaskan Yayasan Tuarek Natkime Sah Secara Hukum dan Berhak Kelola Besi Scrap Freeport
Jelang Piala Dunia 2026 Polri Ingatkan Masyarakat Waspadai Penipuan dan Judi BolaÂ
KWJPB Soroti Dugaan Budaya Patronase di Dinas Sosial DKI