![]()
Jakarta – MCN.com – Setiap tanggal 14 Februari, hati sesepuh tokoh Sulawesi Utara, Theo L Sambuaga, penuh dengan rasa haru, bangga, dan bersyukur. Dia tak bisa membayangkan bila pada 14 Februari 1946 itu para pejuang Sulawesi Utara di bawah komando Letnan Kolonel Charles C. Taulu, tak bergerak mengusir Belanda dan NICA dari kota Manado dan Sulawesi Utara.
Namun, keberanian yang didasarkan pada kebenaran dan keadilan demi kemanusiaan, telah mendorong Letkol Taulu dan Sersan Wuisin untuk mengangkat senjata melawan dan mengusir militer Belanda.
Atas nama Sulawesi Utara mereka telah membuktikan bahwa Bumi Nyiur Melambai adalah bagian penting dari NKRI, negara yang baru saja diproklamirkan setahun oleh Bung Karno dan Bung Hatta.
Nilai-nilai perjuangan Letkol Taulu dan masyarakat Sulawesi Utara itulah yang mengharukan hati Theo L Sambuaga, mantan Menteri Perumahan Rakyat di masa Presiden Soeharto.
Maka, langkah Theo L Sambuaga sangat pasti ketika dirinya hadir dalam Apel dan Ziarah di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (14/2/2025). Kegiatan apel dan ziarah itu dikoordinir oleh Gerakan Penerus Perjuangan Merah Putih (GPPMP). Apel upacara dipimpin Laksda TNI Dr Samuel H. Kowaas, Sestama Bakamla RI.
Para tokoh Sulawesi Utara turut hadir saat itu, mereka antara lain, mantan Gubernur Sulawesi Utara E.E Mangindaan, Brigjen TNI Douglas Umboh, Ketua Umum DPP KKK Angelica Tengker, Dr Tilly Kasenda, Dr Theo L Sambuaga, Dr Jan Maringka, Ketua Umum DPP GPPMP Jeffry Rawis, Waketum DPP GPPMP Donald Pokatong dan Sekjen Teddy Matheos, dan sejumlah tokoh Sulut lainnya.
Usai apel, para peziarah kemudian menabur bunga di atas pusara para pahlawan tersebut, diiringi doa keselamatan bagi arwah mereka. Ada rasa bangga dan rasa terima kasih yang terucap di hati para peziarah saat menaburkan bunga di makam para pejuang dari Sulawesi Utara itu.
Usai acara, kepada awak media, Theo L Sambuaga mengatakan, memperingati Peristiwa Merah Putih setiap tahun merupakan salah satu cara kita menghormati perjuangan para pejuang Sulawesi Utara mengusir militer Belanda dan NICA dari Tanah Sulawesi Utara.
“Perjuangan para pejuang asal Sulawesi Utara bukan saja saat mempertahankan kemerdekaan RI, tetapi sudah ditunjukkan di masa pergerakan kemerdekaan sekitar tahun 1920-an dan 1930-an, sebelum kemerdekaan,” tutur Theo Sambuaga.
Setelah Indonesia merdeka, Belanda ingin menguasai Indonesia lagi. Mereka masuk ke Indonesia. Perlawanan pun terjadi. Namun, saat itu Belanda melakukan provokasi bahwa pemberontakan hanya terjadi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera, yang mendukung NKRI. Sementara rakyat di luar kedua pulau itu masih setia pada Belanda.
Provokasi itu menggelisahkan para pejuang Indonesia yang ada di Sulawesi Utara. Mereka menolak provokasi ala devide et impera itu. Rakyat Sulawesi Utara tetap setia pada NKRI.
Tak tahan melihat perilaku tak benar dari militer Belanda, Letnan Kolonel Charles Choesj Taulu dan Sersan SD Wuisan serta dibantu rakyat Sulawesi Utara segera melancarkan serangan dan berhasil menguasai tangsi militer Belanda di Teling, Manado. Mereka menurunkan bendera Belanda dan merobeknya, lalu mengibarkan bendera Merah Putih. Perjuangan mereka bukan tanpa pengorbanan.
“Di situ ditunjukkan, provokasi Belanda bahwa Sulawesi Utara tidak mau ikut pusat, itu tidak benar. Sulawesi Utara tetap setia pada NKRI, dan itu dibuktikan ketika rakyat Sulawesi Utara menyerang tangsi militer Belanda dan mengusir mereka,” tegas Theo L Sambuaga.
Menurut Theo, Peristiwa Merah Putih membuktikan bahwa rakyat Sulawesi Utara ada bersama Indonesia. Bagi Theo itu suatu peristiwa sejarah yang penting.
Theo mengatakan, sejak semula, saat jaman pergerakan kemerdekaan Indonesia, tokoh-tokoh pejuang berdarah Sulawesi Utara sudah terlibat di dalamnya. Mereka memperjuangkan Indonesia mereka.
Perjuangan itu mereka lanjutkan saat mempertahankan kemerdekaan RI. Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 di Manado adalah bukti konsisten rakyat Sulawesi Utara setia pada Indonesia.
Theo menyebut nama para tokoh nasional yang berasal dari Sulawesi Utara, antara lain, Sam Ratulangi, LN Palar, Arnold Mononutu, Wolter Mongisidi, dan lainnya.
Pentingnya peristiwa itu mendorong Theo L Sambuaga melihat pentingnya melanjutkan semangat para pejuang lewat sosialisasi kepada generasi penerus dan generasi muda Sulawesi Utara saat ini.
Dengan memperingati peristiwa tersebut setiap, kata Theo, kita bisa memetik semangat dan nilai-nilai perjuangan para pahlawan itu. Hal ini Theo tekankan bagi generasi muda, khususnya di Sulawesi Utara.
Sejarah Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 perlu dicantumkan dalam buku sejarah yang dipakai para pelajar Indonesia saat ini. Hanya dengan mengenal sejarah bangsa Indonesia maka generasi muda saat ini akan mencintai dan mempertahankan NKRI.
** (Rika)



More Stories
Bangkitkan Semangat Petualang Sehat, Danlanal Bintan Dukung Pembukaan Jelajah Alam dan Hiking Rally II 2026
Membentuk Generasi Muda Berwawasan Bahari, Danlanal Bintan Pimpin Upacara Pengukuhan Calon Anggota Saka Bahari
Polri Bekali Petugas Dengan Buku Saku “0%” Sebagai Panduan Sosialisasi Program Pro-Rakyat