![]()
Timika – MCN.com – Seni merupakan bahasa yang tepat untuk mengungkapkan identitas sebuah kelompok suku. Lewat gerak dan lagu, terkuak makna terdalam jati diri, bahwa manusia harus kembali pada adat dan budayanya sebagai fundamen dasar dalam melangkah. Tanpa itu, kekaburan diri bisa berakhir pada kebimbangan dan gelisah.
Itu diungkapkan Petrus Janwarin, salah satu tokoh masyarakat Kei di Timika, Papua, usai menikmati pentas sendratari kolosal “Semalam Di Kei” oleh kelompok paguyuban seniman dari Kepulauan Kei.
Sendratari “Semalam Di Kei” mengangkat tema sejarah masyarakat Kei di Provinsi Maluku, dimulai titik awal peradaban itu terjadi dan bermula. Dikisahkan Bumi Larvul Ngabal pada masa awal, hidup dalam klan-klan dengan hukum masing-masing.
Pada babak berikutnya dilukiskan momen perjumpaan dengan agama-agama besar: Islam, Katolik, Kristen. Perjumpaan itu tidak mereduksi tata hukum yang telah ada. Hukum Larvul Ngabal merupakan hasil konsensus bersama untuk menjamin kehidupan tiap kelompok dan tiap pribadi.
Hukum Larvul Ngabal kemudian menjadi kekuatan dasar yang mengatur seluruh hidup manusia Kei, mulai sejak lahir hingga kematian. Keteraturan hidup dan disiplin menjadi prinsip dalam bersikap terhadap alam, sesama dan Tuhan.
Melihat mendesaknya literasi dan edukasi nilai-nilai adat Kei yang mulai ikut tergerus seiring semangat zaman modern, Toni Watratan mengambil langkah untuk melakukan edukasi tentang jati diri orang suku Kei lewat media seni sendratari kolosal “Semalam Di Kei”.
Selama 3 malam pentas sendratari ini digelar di Kota Timika, Papua. Gedung pertunjukan penuh penonton, termasuk generasi muda berdarah Kei yang lahir di Mimika dan karena itu kurang paham dengan budaya dan adat mereka sendiri.
Menurut Petrus Janwarin, pementasan ini membuka kesadaran warga keturunan suku Kei di Mimika untuk menemukan identitas diri lewat refleksi diri secara kultural (cultural self reflection).
Petrus Janwarin mengatakan, di perantauan, generasi muda Kei terkadang kehilangan jati diri mereka. “Di satu sisi, sikap dan perasaan mereka lebih dekat ke Papua, namun di sisi lain, mereka bukan orang Papua, melainkan orang Kei. Di situlah muncul perasaan dilematis dan mengarah kepada kebimbangan akan identitas diri ‘siapakah aku ini'”, tutur Janwarin, mantan anggota DPRD Mimika.
Janwarin berharap, generasi muda Kei mulai melihat dirinya yang asli, dan mulai mempelajari budaya Kei, misalnya budaya Kei dan bentuk-bentuk kesenian yang mencerminkan nilai-nilai hidup bersama orang Kei (ain ni ain).
Edukasi dan sosialisasi budaya Kei sangat mendesak saat ini, karena banyak generasi muda Kei terlihat makin kurang mengenal dan kurang berminat mempelajari budaya dan adat Kei. Padahal, kata Janwarin, adat Kei dengan Hukum Larvul Ngabal menguatkan kehidupan bersama.
Sebagai anak dari Generasi Perintis yang menyebarkan agama Katolik di Kabupaten Mimika dan Papua sekitarnya, Petrus Janwarin amat membanggakan perjuangan awal orangtuanya bersama imam misionaris menyebarkan iman Katolik di Kokonao, Mimika.
Generasi perintis adalah para guru yang mendapatkan rekomendasi dari Keuskupan Amboina untuk memberi pelayanan rohani dan pendidikan kepada masyarakat di Papua. Setelah mendapat kursus kilat sebagai seorang guru dan katekis, mereka diberangkatkan dari Kei menuju beberapa titik di Papua.
Mengingat mereka belum mengetahui keadaan Papua saat itu seperti apa, maka perutusan itu dipersembahkan dalam sebuah Ekaristi requiem (kematian). Tanda bahwa mereka siap mati hanya untuk Tuhan. Ada beberapa gelombang yang datang ke Papua.
Yohanis Berckman Janwarin, pemuda asal Desa Ohoiren, Kei, Maluku Tenggara, termasuk dalam kelompok guru katekis dan perintis yang dikirim ke Papua. Dialah ayah dari Petrus Janwarin. Petrus lahir pada 3 April 1958. Ibunya bernama Yosefina Refo, asal Letvuan.
Dari cerita sang ayah, Petrus mengetahui tantangan berat yang dialami generasi perintis penyebaran agama Katolik di Mimika. Mereka datang dengan kapal laut dan ditempatkan di Kokonao.

“Kesulitan pertama adalah tantangan alam. Saat itu Papua masih gelap dan seram. Kedua, tantangan budaya: bagaimana mereka harus beradaptasi agar bisa diterima dan menjelaskan tentang Tuhan dan pendidikan. Orang Mimika pun belum tahu berbahasa Indonesia. Keempat, tantangan keamanan dan keselamatan. Masih terjadi praktik makan orang dalam suku-suku itu,” jelas Petrus Janwarin.
Tantangan lain adalah soal adat dan kebiasaan. Misalnya masih terjadi perkawinan dalam hubungan keluarga. Agama Katolik melarang kawin paksa. Namun, para perintis mampu meyakinkan masyarakat agar tidak menikah dengan sepupu.
Melihat kondisi saat itu, para guru agama itu mencoba mengumpulkan masyarakat dan membentuk sistem kehidupan kampung dengan aturan main tertentu.
Pada saat yang sama, para guru agama harus mampu memainkan beberapa peran lain seperti sebagai mantri, tukang, mengajarkan bagaimana menjaga kesehatan dan kebersihan, memasak, dan menyulam.
Melihat semua itu Petrus berniat melanjutkan karya dan dedikasi ayahnya. Setamat SMP, dia melanjutkan ke SPG Katolik Taruna Bakti dan Universitas Cenderawasih, Jayapura. Tamat 1985, dia balik Timika. Petrus memiliki 5 anak, dari istrinya Lidwina Hurulean.
Petrus bercerita lagi, sebelum Jepang tiba di Papua, para misionaris Eropa sangat cakap melayani umat dan masyarakat. Namun, ketika tentara Jepang datang, beberapa misionaris diungsikan ke hutan. Di saat itu, para guru katekis ini tidak gentar menghadapi tentara Jepang, yang terus memaksa masyarakat menyediakan makanan bagi mereka.
Dengan tabah, para katekis menjalin komunikasi dengan masyarakat hingga saat Jepang takluk dibawah pasukan sekutu. Kesetiaan para guru dari Kei itu mendapat empati dari masyarakat Mimika.
Saat Pepera, para guru mendorong masyarakat agar bergabung ke dalam NKRI. Jasa besar para guru perintis yang mewartakan Injil di Mimika tak sebatas karya katekese, pendidikan, dan kesehatan saja, tetapi mereka telah melakukan pekerjaan multidimensi.
Menurut Petrus Janwarin, dari hasil didikan guru perintis itu sudah banyak melahirkan tokoh-tokoh baik di pemerintahan, lembaga legislatif, imam dan uskup, dan profesi lainnya. Mereka tersebar di mana-mana.
“Saya sebutkan saja beberapa nama mereka: Pastor Yustinus Rahangiar, Uskup John Saklil, dr Leny Renwarin, John Rettob, dokter Herlina Rahangiar, Engel Rahaded, Beni Renyaan, Adrianus Hurulean, Herman Renwarin, pilot Ferdinan Namsa, Merry Maturbongs, Thobias Maturbongs, Yohanis Ferry Heljanan, Stefanus Rahangiar, saya sendiri, dan lainnya,” jelang Petrus.
Tantangan bagi anak cucu dari generasi perintis adalah bagaimana melanjutkan karya para perintis. Itulah kenapa, sebagai anak dari orangtua generasi perintis, Petrus dan teman-temannya membentuk Ikatan Keluarga Perintis Peduli Timika.
Dalam refleksinya, Petrus mengatakan, orangtuanya memiliki modal kultural yang baik, yakni mengenal adat Kei dan ajaran Gereja Katolik. Karena itu dia yakin bahwa setiap orang Kei harus kembali ke identitas dirinya dengan lebih dahulu mempelajari dan menghayati nilai-nilai adat Kei yang begitu luhur karena menghormati Tuhan, manusia, dan alam semesta. Tugas ini memang berat, tapi engkau didampingi rahmat. **(Rika)



More Stories
Danlanal Bintan Hadiri Pembukaan MTQH XIX Tingkat Kota Tanjungpinang
Polri Ukir Prestasi Dunia: Tim Taekwondo Garbha Presisi Juara Umum Di JepangÂ
1 Mei Jadi Momentum Refleksi Sejarah dan Persatuan Papua Dalam NKRI