![]()
Jakarta – MCN.com – Forum Silaturahmi Ulama Indonesia (FSUI) menjadi wadah penting dan strategis dalam edukasi dan mencerahkan masyarakat yang saat ini terperangkap pada dominasi teknologi. Gosip, ujaran kebencian, hingga kekerasan dan sikap diskriminatif melahirkan konflik sosial. Ulama diminta terlibat dan memberi solusi yang tepat.
Penegasan ini disampaikan Ketua Advokasi DPP FSUI Dr Al Hadi usai menghadiri pelantikan Dewan Pengurus Wilayah Forum Silaturahmi Ulama Indonesia se-Jabodetabek, di Gedung Nusantara 5, Senayan, Jakarta (23/8/2023).
“Yang penting bukan pelantikan dan seremonialnya, melainkan setelah ini kita harus berbuat apa untuk masyarakat di bawah sana. Maka, kita harus turun ke bawah, jumpai masyarakat, berdialog, dan membuat program untuk membantu kehidupan mereka. Mencerdaskan dan mencerahkan mereka tentang Islam itu sendiri, jauh sangat penting. Itu dasar. Mereka harus memahami Islam secara tepat dan benar,” tutur Al Hadi kepada awak media, di Senayan.
Ditanya apa yang sudah dilakukan oleh FSUI kepada masyarakat, Al Hadi mengatakan, selama ini mereka sudah turun ke masyarakat dan memberi edukasi di bidang pendidikan sebagai wujud dukungan kepada program pendidikan dari pemerintah.
Program-program FSUI itu diberikan, kata Al Hadi, juga dalam rangka mendukung program pemerintah. “Singkatnya, FSUI itu cinta NKRI,” ujarnya.
Dr Al Hadi mengatakan, para ulama sangat didengar dan dipercaya oleh masyarakat, karena itu ulama berperan penting dalam mengedukasi masyarakat, terutama masyarakat Islam, untuk memahami Islam dengan benar lewat pelbagai kegiatan dakwah. Karena itu, organisasi masyarakat seperti FSUI dapat memberi solusi terhadap persoalan sosial yang terjadi.
Forum Silaturahmi Ulama Indonesia berdiri sejak September 2022 dan sekarang sudah memiliki kepengurusan di 17 provinsi di Indonesia. “Tujuan utamanya, memberi dakwah dan pencerahan masyarakat. Memberi edukasi agar terjadi pemahaman yang benar tentang Islam dan ajaran-ajarannya. Tugas kami adalah memberi edukasi tentang Islam Rahmatan Lil’alamin,” jelas Al Hadi.
Dr Al Hadi menjelaskan, ulama yang tergabung dalam FSUI juga membangun komunikasi dan kerja sama dengan semua pemuka agama non muslim sehingga bersama-sama mengambil bagian dalam membimbing masyarakat menuju kebaikan bersama.
Terkait dengan kedudukan sentral posisi ulama dalam masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, Al Hadi menyatakan FSUI bukan organisasi politik atau sayap politik dari sebuah partai politik. “FSUI ini bebas, independen. Bukan bagian dari suatu organisasi politik. Sikap independensi itu membuat posisi ulama lebih netral dan diterima semua kalangan,” tambahnya.
Namun, Al Hadi tak menampik bahwa ada kader atau anggota FSUI yang terjun ke politik, misalnya sebagai caleg. “Itu urusan pribadi dia, bukan terkait dengan FSUI. Dia tidak mewakili FSUI. Kita harus bisa membedakan dua hal itu dan menghargai keinginan privat seseorang,” jelas Al Hadi.
Penjelasan Al Hadi untuk menampik prasangka bahwa FSUI dapat tergoda pada rayuan kepentingan politik pragmatis menjelang kontestasi politik 2024 di Indonesia. **(Rika)



More Stories
Danlanal Bintan Wakili Dankodaeral IV Hadiri Penutupan Penyengat Heritage 2026
Dari Laut Untuk Rakyat, Kodaeral I dan PIMA Indonesia Bantu Tingkatkan Kesehatan Warga Pulau Halang
PPAL Perkuat Sinergi Kemaritiman Melalui Kunjungan ke INSA