![]()
Jakarta – Mediacitranusantara.com – Di tengah badai digitalisasi yang menggoyahkan pijakan pers Indonesia, ada sosok yang berdiri tegak dengan pena sebagai senjatanya. Emil Foster Simatupang ,seorang jurnalis yang telah menancapkan kaki di dunia pers selama 45 tahun, membuktikan bahwa jiwa jurnalisme bukan hanya tentang berita, tapi tentang perjuangan kemanusiaan yang tak pernah pudar.
Perubahan era digital datang seperti kereta raksasa yang tak bisa dihentikan, menyapu segala sesuatu yang ada di depannya. Seperti yang ungkapkan sosiolog Inggris Anthony Giddens: “Angin perubahan itu menyapu semua yang tegak, roboh, lalu merayap untuk bisa bangkit.” Tapi bagi Emil, tak ada kata menyerah. Jurnalisme adalah hati dan kesadaran moral manusia itu sendiri seperti puisi Chairil Anwar, ia akan “hidup seribu tahun lagi”.
Dari Mesin Ketik Lusuh ke Genggaman Digital Cerita dimulai di sebuah ruangan kecil, disinari cahaya lampu yang tak terlalu terang. Di atas mejanya, sebuah mesin ketik lusuh menanti sentuhan jari-jarinya. Sejak kalimat pertama tertulis kata demi kata tak pernah berhenti mengalir dari apa yang ia lihat di lapangan, cecap dari cerita rakyat, rasakan dengan hati nuraninya, hingga pertimbangkan dengan penuh kedalaman.
Tulisan-tulisannya di koran bukan sekadar kumpulan kata, melainkan cerminan nurani yang jujur dan polos bahkan ia sebutnya sebagai “kelanjutan panggilan ilahi”. Ia giat mempelajari setiap teori jurnalisme, tapi tahu bahwa yang paling penting adalah kerja kaki. Emil melompat dari satu lokasi kejadian ke lokasi lain, mengejar fakta dengan pantang menyerah karena bagi ia jurnalisme adalah tentang kebenaran, bukan opini semata.
Sebagai Ketua Forum Wartawan Mahkamah Agung (Forwama) periode 2023-2026, Emil mengkhususkan diri dalam jurnalisme hukum. Ia menghabiskan berjam-jam di ruang sidang, mendengar setiap kata dakwaan jaksa, pembelaan pengacara, hingga keputusan hakim yang menentukan nasib terdakwa.
Namun, ada satu hal yang selalu membuat hatinya bergetar: kasus korupsi. Di dalam dirinya, pertanyaan itu selalu muncul dengan menggugah “Mengapa kita harus mencuri uang rakyat?” Ia tak pernah bosan menukik tentang hukum dan sosial yang menghantui masyarakat, dengan prinsip yang tak pernah berubah: “Tak boleh ada sesama yang jadi korban.”
Pengalaman segudang yang dimilikinya tak pernah disimpan sendiri. Sebagai CEO Media Digital Breaking News Grup, Emil aktif berbagi cerita suka dan duka dengan generasi wartawan muda lewat diskusi hangat, seminar yang penuh wawasan, atau bahkan nasehat langsung saat bersama di lapangan.
Tak hanya sukses dalam dunia jurnalisme, Emil juga membangun keluarga yang penuh kebanggaan. Belakangan ini, anak bungsunya Jeremy Foster Simatupang lulus dengan nilai Cum Laude dari IPB University Bogor kampus peringkat kedua terbaik di Indonesia, dan bahkan menjadi lulusan terbaik di fakultasnya! Nilai prestasi itu tak lepas dari tekad pasangan Emil dan Chandra Ha Wibawanti yang selalu menekankan pentingnya pendidikan bagi ketiga anak mereka. Rupanya, jiwa juang Emil juga telah mengalir dalam darah keluarga.
Pada hari wisuda Jeremy, banyak tokoh penting datang memberikan ucapan selamat mulai dari Ketua Mahkamah Agung RI Prof. Dr. Hatta Ali, pengacara ternama Hartono Tanuwidjaja, hingga pengacara dunia kelas atas Prof. Lucas. Bukti nyata luasnya relasi yang dibangun Emil dengan cara yang jujur dan penuh integritas.
Emil Foster Simatupang bukan hanya saksi sejarah perjuangan jurnalisme Indonesia. Ia adalah bukti bahwa di era digital yang penuh tantangan, jurnalisme dengan hati dan nurani akan selalu menemukan jalan untuk tetap hidup dan berkembang. **(Rika)



More Stories
Wondr Kemala Run 2026 Sukses Digelar, Dongkrak Ekonomi Bali, Libatkan UMKM dan Salurkan Donasi Kemanusiaan
Lanal Bengkulu Ikuti Apel Gelar Latihan Kesiapsiagaan Operasional Penanggulangan Bencana Alam Gempa Bumi Megathrust Tahun 2026
Bangkitkan Semangat Petualang Sehat, Danlanal Bintan Dukung Pembukaan Jelajah Alam dan Hiking Rally II 2026