![]()
Maluku – MCN.com – Atraksi budaya yang dikenal masyarakat Ambon sebagai “pukul sapu lidi” biasanya dirayakan di Morella dan Mamala pada 7 Syawal, usai Hari Raya Idul Fitri.
Dalam sambutannya, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa mengatakan, budaya “pukul sapu lidi” di Morella, mengingatkan dan menghidupkan kembali semangat patriotisme rakyat Maluku dalam mengusir penjajah dari tanah Maluku.
Gubernur mengingatkan masyarakat Maluku akan nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan diri yang telah diperlihatkan pada Kapitan dan Malesi dalam sejarah untuk kemajuan rakyat Maluku.
Sementara Ketua Umum Front Pemuda Muslim Maluku Haji Umar Kei Ohoitenan, yang diundang hadir pada kegiatan itu, mengungkapkan rasa kagumnya terhadap para pejuang Maluku dalam Perang Kapahaha itu dalam mengusir penjajah.
Umar Ohoitenan yang juga diminta ikut mencambuk salah satu anggota regu itu merasa kagum dengan kekuatan minyak yang dioles pada tubuh mereka. Walau sudah dicambuk beberapa kali dengan sapu lidi oleh Umar Ohoitenan, namun pemuda Morella itu hanya tersenyum-senyum saja.
Umar Ohoitenan, selain sebagai Ketua Umum FPMM, juga merupakan Ketua Dewan Pembina DPP Al-Muluk. Pada kesempatan itu, Umar Ohoitenan memberikan sumbangan kepada para korban konflik di Desa Tulehu dan Desa Tial, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah.
Tradisi budaya “pukul sapu lidi” mengenang perjuangan rakyat di Morella dan Mamala, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, saat berperang melawan penjajah Eropa yang hendak menguasai wilayah itu. Pertempuran itu dikenal sebagai Perang Kapahaha. Saling membantu dalam upaya mengusir penjajah itulah yang dikenang dan direpresentasikan dalam atraksi budaya “pukul sapu lidi”, yang digelar tiap tahun, di Morella dan Mamala, dua desa bersaudara tersebut.
Desa Morella, pada Senin (8/4/2025) dipadati ratusan ribu warga Pulau Ambon. Lapangan Masjid Negeri Morella dipenuhi warga untuk menyaksikan pesta budaya atraksi “pukul sapu lidi” di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah.
Pesta budaya yang digelar setiap 7 Syawal ini menjadi tontonan menarik bagi masyarakat, wisatawan lokal dan mancanegara.
Sebelum digelar atraksi “pukul sapu lidi”, masyarakat disuguhi tari-tarian seperti Tari Cakalele, dan juga Tari Bambu Gila yang mengandung unsur mistis.
Atraksi “pukul sapu lidi” ini dilakukan dengan membagi dua regu pemuda. Tiap regu berjumlah 10 orang. Mereka memakai celana pendek, bertelanjang dada, serta memakai pengikat kepala merah (kain berang).
Untuk membedakan kedua regu, maka satu regu memakai celana pendek dan ikat kepala berwarna merah, sedang regu lainnya memakai celana dan ikat kepala berwarna putih.
Sebelum tampil di arena, mereka harus berkumpul di rumah pusaka marga Wakang (Pessy) untuk melakukan prosesi adat.
Di lapangan luas, kedua regu saling berhadapan, tiap orang memegang batang lidi berukuran besar dari pohon enau.
Kedua regu kemudian menampilkan atraksi saling pukul dengan sapu lidi hingga berdarah-darah, secara bergantian. Walau demikian, mereka yang terluka tak merasakan perih luka-luka itu. Akibat cambukan lidi, badan mereka memerah, memecah dan mengeluarkan darah segar dari tubuh yang terluka. Namun mereka tetap melontarkan senyum sebagai tanda tak merasakan perih dan sakit.
Luka-luka yang tertoreh di sekujur tubuh itu menjadi tanda dan simbol perjuangan mereka melawan penjajah Eropa. Luka bekas pukulan kemudian diobati secara tradisional dengan menggunakan getah daun jarak atau dikenal dengan nama minyak Mamala. Luka-luka pun sembuh.
Usai atraksi, mereka saling berpelukan dan berjanji mempererat persaudaraan dan persatuan mereka.
Menurut Raja Negeri Morella, Fadil Sialana, tujuan atraksi pukul sapu lidi ini, secara umum untuk menanamkan nilai heroik perjuangan rakyat Leihitu melawan penjajah bagi generasi penerusnya, dan meningkatkan persatuan dan kesatuan melalui kekeluargaan dan kebersamaan.
Tradisi “pukul sapu lidi” ini berakar pada sejarah perjuangan Kapitan dan Malesi pada Perang Kapahaha.
Perang di Benteng Kapahaha, Morella (1637-1646) terjadi ketika para Kapitan dan Malesi (pengawal) dari wilayah adat “Pata Siwa-Pata Lima” serta rakyat yang berasal dari berbagai daerah berjuang di Kapahaha selama 9 tahun.
Atraksi “pukul sapu lidi” di Morella dan Mamala yang digelar setiap tahun usai Idul Fitri ini, merupakan suatu aset budaya bangsa yang sarat dengan nilai historis yang perlu terus dilestarikan.
Provinsi Maluku dan Maluku Utara memiliki beragam budaya yang telah menarik hati para wisatawan nasional dan mancanegara. Pembangunan berbasis budaya terus dikembangkan di daerah kepulauan ini demi kemaslahatan rakyatnya. **(Rika)



More Stories
Launching Program Unggulan Majelis Taklim Ar Romlah, Bagikan 100 Al-Qur’an
28 Tahun Reformasi 1998: Demokrasi Tumbuh, Oligarki Menguat, Keadilan Sosial Masih Diperebutkan
Putusan Adat, Lenis Kogoya Tegaskan Yayasan Tuarek Natkime Sah Secara Hukum dan Berhak Kelola Besi Scrap Freeport