![]()
Jakarta – MCN.com – Sekolah yang beralamat di Jl. Anggrek No. 86, Genteng, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, sudah lama dikenal masyarakat sekitar menerapkan sekolah wisata edukasi. Tak heran bila segudang prestasi diraihnya, baik tingkat kabupaten maupun nasional. SMP Negeri 2 Banyuwangi ini juga memiliki rekam jejak menggapai prestasi akademik maupun non-akademik.
Dalam “Penghargaan Sekolah Adiwiyata Mandiri dan Adiwiyata Nasional 2024” yang digelar Kementerian LHK di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat, Rabu (2/10/2024), Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Genteng, Banyuwangi, Wahyu Handayani, M.Si, menerima penghargaan kategori Adiwiyata Mandiri 2024 atas perubahan perilaku dalam budaya menjaga kebersihan dan budaya peduli sampah.
“Penghargaan Adiwiyata bukan sebuah penghargaan terhadap suatu lomba, melainkan karena perubahan perilaku terhadap lingkungan, misalnya terkait masalah kebersihan dan sampah,” tutur Wahyu Handayani kepada awak media di Jakarta.
Penghargaan kategori Adiwiyata Mandiri lebih tinggi dari penghargaan Adiwiyata Nasional. Tinggal satu digit lagi maka akan meraih Adiwiyata ASEAN Ecoschool.
“Anak-anak sudah bisa berbagi untuk mengajak masyarakat mengolah sampah, dan bukan saja memilih dan memilah sampah, tapi sudah bisa mengolah sampah baik organik maupun non-organik,” jelas Kepsek dengan riang gembira.
Untuk sampah, semua warga sekolah terlibat, baik guru, karyawan, maupun siswa. Sedangkan untuk sosialisasi dan mengedukasi masyarakat, sekolah memiliki Tim Adiwiyata.
Jumlah total siswa di SMP Negeri 2 Banyuwangi ada 938 siswa dengan 65 guru. dan Ada 26 kelompok belajar atau kelas.
Selain Adiwiyata Mandiri, SMP Negeri 2 juga membuka inovasi sekolah wisata edukasi. “Kami tidak hanya melayani anak-anak. Apa yang ada di sekolah ini kami buka juga untuk umum. Karena lingkungan sekolah asri, nyaman, dan banyak inovasi anak-anak, banyak tamu yang datang, bahkan ada yang datang dari luar Jawa. Kami menerima banyak tamu, karena kegiatan kami dikenal masyarakat lewat media sosial,” kata Wahyu Handayani yang didampingi Wakil Kepsek Arif Wiyono, S.Pd.
“Harapan saya sederhana saja, tapi ini sulit, yaitu sadar sampah,” tegas Wahyu Handayani. Mengapa sadar sampah? Dia menjelaskan, sampah bukan masalah bersama tetapi masalah individu, pribadi. Ini yang sering keliru dipahami masyarakat. Sampah dari sebuah permen, misalnya, harus menjadi tanggung jawab pribadi orang menikmati permen tersebut. Di negara-negara maju, tidak ada tempat sampah, karena sampah menjadi tanggung jawab pribadi, bukan kolektif.
Pengalaman mengolah sampah hingga terbentuk perilaku sadar sampah dan sadar lingkungan di SMP Negeri 2 Genteng, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Timur, menjadi sebuah langkah kecil yang bisa ditiru ketika dunia tengah mengalami perubahan iklim dan krisis iklim yang dampaknya sudah semakin sering terasa di masyarakat Indonesia. **(Rika)



More Stories
Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Kasad Hadiri Puncak PENAS Petani dan Nelayan XVII 2026
Danlanal Bintan Wakili Dankodaeral IV Hadiri Penutupan Penyengat Heritage 2026
Dari Laut Untuk Rakyat, Kodaeral I dan PIMA Indonesia Bantu Tingkatkan Kesehatan Warga Pulau Halang