![]()
Jakarta – MCN.com – Cita-cita menjadi pemain bulu tangkis sudah terpatri kuat dalam dirinya. Baginya, menjadi atlet bulu tangkis dan bisa mengharumkan nama Indonesia adalah sebuah kebanggaan tersendiri.
Itulah tekad yang membara dalam diri remaja bernama lengkap Umar Ali Taufan Ohoitenan. Umar Ali Taufan lahir di Jakarta dan saat ini tengah menjalani pendidikan pada sekolah PPOP Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Anak dari Ketua Front Pemuda Muslim Maluku, Umar Ohoitenan, ini kini sibuk belajar dan berlatih sebagai atlet cabang olahraga bulu tangkis di Ragunan. Nama Ragunan identik dengan komplek sekolah calon olahragawan terbaik yang dimiliki negeri ini.
Cita-cita Umar Ali Taufan untuk menjadi atlet pebulu tangkis ternyata direstui sang ayah. Anak-anaknya bebas memilih karier mereka. Bagi Umar Ohoitenan, yang paling penting anak-anaknya menjadi seorang muslim yang baik, yang rajin sholat dan ngaji.
“Ayah mengajarkan sholat dan ngaji sejak saya kecil. Semua anak-anaknya rajin sholat dan tahu ngaji. Itu yang membanggakan orang tua saya,” tutur Umar Ali Taufan di rumahnya, Pondok Gede, Jakarta Timur Sabtu (20/7/2024).
Dengan bersekolah di sekolah atlet, Umar Ali Taufan mengaku dirinya sebagai remaja Jakarta tak tenggelam dalam utak-atik gawai setiap saat. Bahkan, gawai yang dimilikinya lebih banyak digunakan untuk urusan pelajaran dan hal-hal positif lainnya.
“Sebagai anak remaja, sebenarnya saya juga suka main game di HP. Tapi, karena banyak kesibukan di asrama, HP hanya digunakan untuk menunjang pelajaran. Waktu sudah habis untuk belajar dan berlatih,” tutur remaja yang sangat bangga dengan orangtuanya.
Pada hari Sabtu, Umar Ali Taufan boleh pulang ke rumah. Dia mengaku, di rumah, waktunya dihabiskan untuk berkomunikasi dengan kakak dan adik-adik termasuk orang tua.
Sejak kecil, dia mengaku sudah dididik dengan disiplin oleh orang tua. “Sejak kecil, ayah mengajarkan kami sholat dan ngaji. Bisa baca Alquran. Itu menjadi kebanggaan ayah. Ayah mau anak-anaknya dekat sama Allah dan karena itu harus rajin sholat dan ngaji. Sekarang, kami semua sudah terbiasa dengan hal itu. Sehingga saat masuk Pendidikan di Ragunan saya sudah biasa dengan hidup disiplin. Ayah sudah ajarkan Nilai-Nilai disiplin di rumah,” cerita Umar Ali Taufan dengan santai dan wajah gembira.
Tapi, dirinya juga bangga karena sang ayah bersikap tegas pada hal-hal prinsipil, misalnya, soal rajin sekolah dan rajin sholat. “Saya berterima kasih kepada orang tua yang sudah melahirkan saya dan membesarkan saya hingga saat saat ini. Saya suka ayah tegas. Itu yang bikin kami jadi keluarga yang baik,” ungkapnya.
Dalam pergaulan di lingkungannya, Umar Ali Taufan tak menyangkal bahwa didikan orang tua pada dirinya ikut dirasakan oleh teman-teman bergaulnya. “Karena mereka bergaul dengan saya, jadi kalau saya sholat dan ngaji, auranya kena pada mereka, mereka juga ikut sholat dan ngaji jadinya,” tambah remaja kelahiran Jakarta itu.
Dia mengaku bisa bergaul dengan siapa saja dan selalu ingin melihat teman-temannya jadi anak yang baik, taat dan hormat pada orang tua, serta tidak melupakan Allah.
Demikian pula saat sudah tinggal di asrama atlet cabang olahraga Ragunan, dirinya tak sulit beradaptasi karena semua nilai-nilai hidup bersama itu sudah berakar kuat dalam dirinya lewat didikan orang tua di rumah.
Di mata Umar Ali Taufan Ohoitenan, kemajuan teknologi digital harus bisa digunakan oleh kaum remaja Indonesia untuk kebaikan diri, bukan sebaliknya merusak diri. Bersikap positif terhadap teknologi digital harus bisa membantu orang untuk selalu taat beragama dan peduli pada sesama.
“Saya berterima kasih kepada orang tua yang mendidik saya dengan nilai-nilai Islam, apalagi ayah saya sudah mendirikan Masjid Ar-Romlah di depan rumah kami. Saya bangga pada orang tua, maka saya selalu berdoa agar orang tua selalu sehat dan dapat Rahmat dari Allah,” ujar remaja yang berpenampilan tenang dan dewasa ini.
Remaja berdarah Kei, Maluku, itu tak menutup kegembiraannya saat pulang kampung di Danar, Kei Kecil, Maluku Tenggara, kampung asal ayahnya Umar Ohoitenan. Melihat keindahan pantai-pantai di Kei, hatinya terpesona menjadi kagum.
“Saya sudah sampai di Kei, di Tual, di Danar. Wow, adem sekali di sana. Saya sudah sempat keliling dan mereka ramah sekali. Saya bangga pada Kei. Kei itu adem dan mantap,” tuturnya yang rindu datang ke sana bila punya waktu libur.
Saat ini sang ayah banyak terlibat mendamaikan kelompok-kelompok anak Indonesia Timur yang berkonflik. Sosok Umar Ohoitenan dibutuhkan untuk merangkul semua kelompok Maluku itu. Perannya membanggakan Komunitas-komunitas di Jabodetabek.
Bumi Larvul Ngabal Kei, Maluku Tenggara telah menitiskan kepada anak cucunya semangat hidup “Ain Ni Ain” kita adalah satu saudara. Filosofi Kei “Vuut Ain Mehe Ngifun Manut Ain Mehe Ni Tilur, kita berasal dari nenek moyang yang sama, menjadi penguat dalam membangun persaudaraan anak-anak suku Kei. ** (Rika)



More Stories
Danlanal Bintan Hadiri Pelepasan Atlet OCBC Singapore National Road Championship 2026
Danlanal Bintan Hadiri Pencanangan Sensus Ekonomi 2026 Kota Tanjungpinang
Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Kasad Hadiri Puncak PENAS Petani dan Nelayan XVII 2026