April 30, 2026

Misi Budaya Kei Hingga Perjumpaan Penuh Kekeluargaan di Timika

Spread the love

Loading

Timika – MCN.com – Dari Misi kebudayaan Kei yang diusung kelompok Tim 100 Semalam di Kei dalam memperkenalkan budaya suku Kei, Maluku Tenggara, ke Kota Timika, Kabupaten Mimika, Papua, menyisakan pengalaman dan kisah-kisah mengharukan perjumpaan mereka dengan sesama saudaranya di tanah Mimika. Tim ini dipimpin Toni Watratan, sosok muda pemerhati budaya Kei.

Dalam tim yang disebut Tim 100 Sendratari ini, terdiri dari kelompok penari, penabuh alat musik, penyanyi, dan paduan suara. Yang unik para pemain sendratari “ Semalam Di Kei” terdiri dari gabungan antara anak Kei beragama Katolik, Kristen, dan Islam, dan kegiatan ini sekaligus merupakan upaya penggalangan dana untuk pembangunan gedung Gereja Katolik Santa Maria Goreti di Desa Rumadian, Kei Kecil.

Sementara para artis penyanyi, yang juga anak Kei, didatangkan dari Kei, Surabaya, Jayapura, dan Timika. Mereka itu antara lain, Merry Welerubun, Roy Madubun, Angelo Renyaan, Rossa Venska Renwarin, Beben Rahangmetan, dan Mario Kudubun.

Lewat pentas sendratari “Semalam Di Kei” perasaan identitas diri sebagai orang Kei digugah dan diteguhkan secara mendalam hingga membangkitkan kesadaran diri sebagai anak suku Kei yang menjunjung kehidupan sosial dalam tatanan hukum Larvul Ngabal.

Sendratari kolosal ini melukiskan sejarah awal mula manusia dan peradaban Kei di mana orang masih hidup terpencar dalam kelompoknya dan dituntun dengan hukumnya sendiri-sendiri. Dalam situasi itu, sering terjadi peperangan antara kelompok. Kemudian pada babak selanjutkan digambarkan perjumpaannya orang Kei dengan agama-agama samawi (Islam, Katolik, Kristen) dan selanjutnya mereka membentuk diri dalam masyarakat adat Kei yang diatur Hukum Larvul Ngabal.

Hukum Larvul Ngabal mengatur kehidupan orang suku Kei sejak saat kelahiran, kehidupan bersama, hingga kematian Local wisdom ini didaulat oleh badan PBB UNESCO sebagai satu dari delapan kearifan budaya yang diakui dunia.

Tim 100 semalam di Kei ikut terlibat tim El Wandan tak hanya mementaskan kisah sejarah Kei dan terbentuknya hukum adat Larvul Ngabal saja, mereka juga menghadirkan sebuah Misa Inkulturasi, di mana lagu-lagu liturgis dinyanyikan dalam bahasa adat Kei.

Perayaan Ekaristi pada Minggu (5/11/2023) di Gereja Katedral Tiga RajaTimika terasa khidmat ketika satu demi satu lagu berbahasa Kei dilantunkan dengan merdu. Anggota paduan suara yang terdiri dari 33 penyanyi berbalutkan pakaian bermotif adat Kei, bernyanyi dengan kualitas suara prima. Ekaristi dipimpin empat imam, yakni Pastor Amandus Rahadat Pr, Sam Ohoiledjaan Pr, P. Rinto Dumatubun Pr, dan P. Brian Wijange Pr

Mereka adalah gabungan dari Paduan Suara Exultate Deo Choir dan Paduan Suara Maria Goretti Rumadian dibawah pelatih dan dirigen Petrus Rahawarin, S.E, M.M. PS Exultate Deo Choir memiliki prestasi terbaik dalam lomba-paduan Pesparani Tingkat Kabupaten Kota di Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara.

Tak heran bila sebagian dari antara mereka adalah anggota koor yang mewakili Provinsi Maluku dalam merebut trofi juara pada Pesparani Nasional pertama di Ambon. Sementara pada Pesparani Nasional kedua di Jakarta, pada Oktober 2023, beberapa anggota mereka masuk dalam Kategori Paduan Suara Dewasa Campuran, di mana Provinsi Maluku mampu mempertahankan juara umum dan terbaik tingkat nasional.

Petrus Rahawarin mengatakan, untuk pentas ke Timika, paduan suara gabungan ini berlatih keras sebanyak tiga kali dalam seminggu selama 3 bulan. Sebelumnya koor umat Rumadian sudah dilatih Ida Ohoiwutun. Lagu-lagu itu merupakan ciptaan Petrus sendiri sehingga mudah ia memberi pelatihan pada kelompok ini.

“Persiapannya, kami berlatih seminggu 3 kali dan disesuaikan jam kerja anggota, karena rata-rata anggota paduan suara ini berstatus pegawai negeri sipil (PNS) dan karyawan swasta. Saya berharap kelompok ini bisa tetap terjaga dan menjaga kekompakannya terus, ” ujar pelatih dan dirigen Petrus Rahawarin, yang juga merupakan alumni Seminari Menengah Santo Yudas Thaddeus Langgur.

Usai Misa di Katedral Timika, umat dan masyarakat dihibur oleh para artis berdarah Kei dengan senandung lagu-lagu indah. Ditampilkan juga para penari Sawat El Wandan dan tarian Zamra, sebuah tarian dari sub-etnis Banda Eli, di Pulau Kei Besar. Tari Zamra merupakan ekspresi budaya Islam, yang biasanya dimainkan putra-putra Muslim saat Idul Fitri di Bumi Larvul Ngabal, Maluku Tenggara.

Setelah menggelar pentas seni tari dan seni suara selama tiga malam berturut-turut, anggota Tim 100 diundang baik komunitas Katolik maupun komunitas Islam yang ada di Timika. Seperti sudah dilukiskan dalam sendratari bahwa sejak awal mula masyarakat Kei sudah hidup dalam menjunjung toleransi beragama. Suku ini sudah terbentuk, jauh sebelum agama hadir di Kepulauan Kei.

Dalam perjumpaan penuh persaudaraan itu, kerinduan satu sama sebagai anak suku Kei diungkapkan dalam momen pertemuan, cerita, nyanyi dan dendang bersama serta santap bersama. Suasana hidup di Kei sungguh dihadirkan kembali di tanah perantauan Mimika. Tersaji menu enbal, sayur sirsir, dan ikan kuah kuning, yang menjadi menu tradisional suku Kei, menimbulkan nostalgia pada kampung halaman nun jauh di sana.

Misi budaya Tim 100 tak bisa dilepaskan dari upaya penggalangan dana bagi pembangunan gedung gereja terapung di Desa Rumadian, gereja terapung pertama di Indonesia. Mereka mendapat dukungan penuh dari Uskup Amboina Mgr Seno Ngutra.

Petrus Rahawarin sangat yakin gereja terapung ini akan menjadi salah satu ikon di Kabupaten Maluku Tenggara yang masyarakatnya terbilang religius. “Gedung gereja adalah untuk umat berdoa, sehingga kita mesti rela bekerja untuk Tuhan,” ujar anak bungsu dari 7 bersaudara putra-putri Bapak Ignatius Rahawarin dan Ibu Petronela Rahawarin.

Setelah Papua, tim budaya ini akan berkeliling ke beberapa tempat di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Tim penggalangan dana di kota-kota besar itu terus bekerja demi menghadirkan “Semalam Di Kei”. **(Rika)