![]()
Timika – MCN.com – Pentas konser Konser Kolosal Sendratari “Semalam Di Kei” Menggoyang Timika sendratari “Semalam Di Kei” benar-benar menyadarkan kesadaran warga Suku Kei di kota Timika, Rabu (1/11/2023). Kesadaran akan sejarah awal orang suku Kei dan Hukum Larvul Ngabal yang menjadi salah satu dari 8 local wisdom yang ditetapkan PBB, terus diedukasikan kepada warga Kei perantauan.
Gedung sudah dipenuhi undangan dan penonton saat opening sendratari yang dimainkan 100 penari dimulai. Sendratari yang disutradarai seniman KeiToni Watratan memekakkan hati dan mata penonton akan sejarah awal mula kehidupan di Bumi Larvul Ngabal.
Para penari itu menggambarkan keadaan manusia Kei sebelum bersentuhan dengan agama Islam, Katolik, Kristen, dan modernisme. Hidup dalam kelompok dengan hukum dan peraturannya sendiri-sendiri, ternyata menyisakan konflik dan peperangan.
Masuklah para pendatang dari Jawa dan Bali ke Kei dan pelukisan tokoh sejarah pembentuk masyarakat Kei. Kelompok Ursiw dengan hukum Ngabal dan masyarakat Lor Lim dengan hukum Larvul-nya, serta hukum-hukum pada kelompok kecil sosial lainnya mulai disatukan dalam sebuah sistem hukum yang disebut Hukum Larvul Ngabal yang menjadi pedoman hidup masyarakat suku Kei sejak dulu hingga kini.
Pada babak lainya, dilukiskan sejarah masuknya agama Islam di Kei, disusul Katolik dan Kristen. Kehadiran agama samawi ini ternyata tidak mengubah nilai-nilai adat Kei, buktinya tak ada nilai-nilai hukum adat itu yang bertentangan dengan hukum-hukum agama.
Dengan sejarah seperti itu, menurut Toni Watratan, sangat menarik untuk melihat praktik toleransi dalam budaya masyarakat Kei, yang sudah berlangsung ribuan tahun.
“Sejak agama-agama itu masuk ke Kei, sesungguhnya agama-agama itu lebih berfungsi ke arah menyempurnakan apa yang sudah dalam masyarakat. Pemandangan toleransi dalam sejarah Kei itu terlihat sejak awal bagaimana dalam sebuah rumah kita bisa menemukan anggota dengan 3 agama itu tinggal dalam satu rumah yang sama. Bukan baru sekarang pemandangan seperti itu terlihat, tapi sudah ribuan tahun. Jadi, dari sejarahnya, akar toleransi di Kei itu cukup lama dan cukup kuat,” jelas Toni yang juga selaku ketua panitia pencari dana untuk pembangunan gereja terapung di Rumadian, Kei, Maluku Tenggara.
Lebih lanjut, Toni menjelaskan, tujuan dari konser ini pertama-tama merupakan kegiatan edukasi tentang sejarah dan budaya Kei kepada warga Kei yang ada di perantauan, di Indonesia. Ada kemendesakan agar budaya Kei, termasuk Hukum Larvul Ngabal, dalam implementasinya di tengah praksis hidup, mulai tergerus oleh arus zaman yang menawarkan nilai-nilai egoistik, hedonistik, tak menyangkal kemanusiaan.
Sebagai anak muda Kei, Toni terpanggil untuk “memanggil pulang orang Kei” kepada rahim Bumi Larvul Ngabal, lewat edukasi yang tepat tentang adat istiadat suku Kei melalui konser ini.
Selain sendratari, acara juga diisi oleh para penyanyi dan musisi asal Kei, yang didatangkan dari Jakarta, Surabaya, Jayapura, Kei, dan Timika. Kehadiran para penyanyi ini mempunyai makna tersendiri. Mereka antara lain, Merry Welerubun, Roy Madubun, Angelo Renyaan, Rossa Venska Renwarin, Beben Rahangmetan, Mario Koedoebun.
“Saya bersyukur sekali bisa dilibatkan dalam konser amal ini. Saya merasa terhormat diundang dari Surabaya. Saya akan memberi penampilan yang terbaik untuk Tanah Kei dalam kegiatan ini. Ini sebuah kenangan yang sangat indah,” tutur Merry Welerubun, penyanyi yang sudah lama berkarir di dunia tarik suara, di Tanah Air.
Perjalanannya di jalur musik ini terbilang panjang. Semula Merry Weller menyanyikan lagu-lagu berbahasa Kei dengan genre dangdut. Tak sulit menemukannya di kanal Youtube. Saat berkolaborasi dengan Bripka Roy Madubun, Merry merilis lagu “Duad Mehe Kan Kai” ciptaan Roy.
Lagu pop daerah Kei bertema cinta ini mendapat perhatian follower dengan komentar yang positif. Pada bagian refrein lagu itu, Merry melantunkan lirik manis ini, ”Duad mehe kan kai. yaau nung rang, u batang fok bokbok, fo nan aik nung faloang hovan hamar”.
Merry yang berayah seorang TNI AD ini, pada masa kecil hidup di Timor Leste. Ketertarikannya pada dunia tarik suara terbentuk saat giat dalam acara nyanyi di gereja, sejak SD hingga SMA.
Sementara Roy Madubun merupakan anggota Polri. Roy sempat ikut dalam audisi Indonesian Idol di Jayapura. Dengan kualitas suaranya yang prima, Roy sering menyumbang suaranya untuk kegiatan amal. Anggota Polisi ini ternyata sudah mengoleksi banyak lagu ciptaan berbahasa Kei karena dia tetap memelihara kemampuan berbahasa Kei.
Semalam suara Merry Welerubun, Roy Madubun, Angelo Renyaan, Rossa Venska Renwarin, Beben Rahangmetan, dan Mario Koedoebun membahana dalam gedung, memaksa air mata warga Kei perantauan menetes deras saat teringat pada kampung halaman.
Acara “Semalam Di Kei” menurut rencana akan berlangsung selama 3 hari. “Semalam Di Kei” sungguh menyatukan warga Kei dan masyarakat kota Timika. Mereka bertekad bergandengan tangan membangun Kei, Nuhu Evav, Nuhu Kilkilun.
Ini menjadi konser penuh sejarah, karena untuk mencari dana guna pembangunan gereja di Kei ikut melibatkan anak Kei beragama Islam, Kristen, dan Katolik. Toleransi di Kei bisa menjadi pelajaran untuk toleransi di Indonesia.**Rika)



More Stories
Danlanal Bintan Hadiri Pembukaan MTQH XIX Tingkat Kota Tanjungpinang
Polri Ukir Prestasi Dunia: Tim Taekwondo Garbha Presisi Juara Umum Di Jepang
1 Mei Jadi Momentum Refleksi Sejarah dan Persatuan Papua Dalam NKRI