![]()
Jakarta – MCN.com – Warga Sulawesi Utara di Jakarta memperlihatkan antusiasme yang tinggi dalam merayakan HUT ke-59 Provinsi Sulawesi Utara. Hal itu terlihat pada kehadiran mereka di Anjungan Provinsi Sulawesi Utara, Taman Mini Indonesia Indah, Sabtu (23/9/2023).
Ketua Penghubung Provinsi Sulawesi Utara Christian Singal, S. Kom., M.Si., mengatakan, acara dibuka dengan pengibaran bendera Merah Putih yang diikuti pegawai, warga Sulut, ormas-ormas yang berasal dari Sulut, serta tamu dan undangan.
“Ini acara yang sederhana saja, tapi terlihat antusiasme yang tinggi dari masyarakat Sulut yang ada di Jakarta untuk menghadirinya,” ujar Christian kepada awak media, Sabtu (23/9/2023).
Setelah upacara, panitia menggelar lomba-lomba seperti lomba pidato dalam bahasa daerah (Tonsea, Tombulu, dan lain) untuk anak-anak dan tarian (dance) untuk dewasa. Sayangnya, tak ada peserta lomba pidato yang mendaftar.
“Sayang sekali, ya. Sebenarnya lomba pidato dalam bahasa daerah itu bagus sekali untuk anak-anak, karena mereka bila latihan berbahasa daerah dan juga latihan keberanian tampil berpidato,” tambah Christian, sambil berharap anak-anak dan generasi muda Sulut tetap mencintai bahasa dan budaya di Sulawesi Utara.

Sementara lomba dance diikuti banyak peserta. Tak bisa disangkal hal itu (dance) lagi merebak di Indonesia beberapa tahun terakhir ini, termasuk di kalangan masyarakat Sulawesi Utara.
Kata Christian, undangan lomba dance disebarkan panitia melalui ormas-ormas dan mendapat tanggapan positif. Dia mengatakan, pemenang lomba diberi hadiah berupa uang tunai.
Dalam sambutannya saat upacara, Christian Singal mengatakan, memasuki usia ke-59 ini, Provinsi Sulawesi Utara mengalami banyak kemajuan di berbagai sektor, seperti industri, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur di bawah kepemimpinan Gubernur Sulut Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandou.
Saat ramah tamah terlihat para warga Sulawesi Utara saling bersalaman satu sama lain. Sulawesi Utara merupakan salah satu provinsi yang sudah sangat maju di wilayah Indonesia bagian timur.
Dalam lomba tarian (dance) para peserta menampilkan kreasi tarian modern. Panggung dibuat bergetar saat mereka mulai unjuk kemampuan bergoyang pinggul dengan kaki yang lincah bergerak sesuai formasi diiringi lagu bertempo cepat.
Dalam semangat persaudaraan dan kekeluargaan, tepuk tangan riuh rendah ditujukan kepada para peserta. Yang jelas, dilihat dari segi usia sebagian peserta itu tidak muda lagi, postur tubuh dan gerakan mereka tampak gesit. Tapi jangan ditanya soal aksi mereka di pentas. Tak ada beda dengan keluwesan gerak anak muda.
Panitia memutuskan, keluar sebagai juara pertama adalah kelompok tari Oiko Maesa Rendem asuhan Ibu Veni Eman. Kelompok yang membawakan tari Lion Dance ini, menurut Veni Eman, juga sangat cocok untuk kesehatan.
Veni Eman sendiri adalah seorang pelatih tari. Dia memiliki kelompok tari modern, yang tujuan utamanya adalah demi kesehatan peserta. Namun, anggota yang terdaftar dalam kelompok Veni berkategori remaja, dewasa, dan lansia.
Veni mengaku, baru setahun kelompok tari pimpinannya terbentuk. Mereka bersedia diundang tampil di mana saja dan kapan saja, walau pada awal mula tak berpikir jadi profesional.
Menurut Veni, banyak kaum ibu dan remaja di kota besar seperti Jakarta suka membentuk kelompok tarian kontemporer. “Tujuan utamanya, bisa melepaskan kepenatan hidup tinggal di Ibu Kota, di mana akibat pekerjaan, banyak kaum ibu yang stres. Nah, jadi dengan menari pikiran segar dan otot jadi kuat, serta terhindar dari penyakit,” jelas Veni yang ingin menjaga ketenangan pikiran dan batinnya.
Seminggu sekali para peserta bertemu dan melakukan bersama. “Saat latihan, biasanya kita lakukan bersama-sama dan mencampur antara remaja, dewasa, dan lansia. Namun, bila hendak mengikuti kompetisi, dipakai kategori remaja, dewasa, dan lansia,”jelas Veni Eman.
Veni lalu menjelaskan filosofi sebuah latihan tari tradisional dan kontemporer. Pada dasarnya setia orang ingin hidupnya bahagia. Kebahagiaan dialami saat fisik kita sehat dan batin serta rohani kita tenang, damai, dan tanpa gangguan.
Bentuk-bentuk kesenian dapat membantu pencapaian kebahagiaan ini, walau kebahagiaan itu suatu proses dalam hidup.
Sementara Linda Maramis yang ikut dalam tarian dance bersama Veni Eman, mengatakan, banyak orang suka mencari komunitas tempat dia curhat sekaligus memperoleh rasa bahagia.
Linda mengatakan, kelompok tari yang dipimpin Vena Eman itu bercorak terbuka, inklusif. “Siapa saja boleh bergabung dengan kami. Kami terbuka dan Dengan senang hati menerima anggota baru. Dengan latihan bersama maka semangat kekeluargaan itu akan terbit,” tutur Linda Maramis.
Warga Sulawesi Utara di Jakarta dan wilayah sekitarnya selalu merasa senang ikut merayakan ulang tahun Provinsi Sulut, provinsi yang terletak di ujung Utara Pulau Sulawesi.
Dalam hidup keseharian mereka masih menghidupkan nilai-nilai kebersamaan dalam pergaulan, sesuatu yang diwariskan dari leluhur secara turun temurun, dan wujud iman dalam agama yang mereka anut.
Dalam tarian “Poco-Poco”, misalnya, kita tak hanya melihat kaki yang melangkah lincah dan badan yang bergoyang dalam irama, tapi juga senyum yang merekah dari hati nan gembira. **{Rika}



More Stories
Danlanal Bintan Wakili Dankodaeral IV Hadiri Penutupan Penyengat Heritage 2026
Dari Laut Untuk Rakyat, Kodaeral I dan PIMA Indonesia Bantu Tingkatkan Kesehatan Warga Pulau Halang
PPAL Perkuat Sinergi Kemaritiman Melalui Kunjungan ke INSA